Akhir-akhir ini masalah di kantor cukup rumit.

Semua masalah berawal dari dijatuhkannya SPV di kantorku. Memang SPV yang dulu kurang mengerti tentang kepemimpinan, tetapi bukan berarti dia tidak bisa memimpin. Sebenarnya SPV yang lama itu baik dan bisa di-andalkan. Hanya saja dia kurang bisa mengayomi atau membina bawahannya. Hal ini menimbulkan beberapa kegerahan di pihak kanvaser, karena merasa tidak cocok dengan atasan mereka. Padahal kalau saja SPV lama di beri pengarahan tentang kepemimpinan, mungkin dia akan menjadi pemimpin yang menyenangkan.

Akhirnya sekitar bulan maret SPV tersebut di demo oleh para kanvaser dan hasilnya si SPV lama pun di pindah tugaskan ke area lainnya.

Nah, sambil menunggu kekosongan jabatan, pihak BM (Branch Manager Lapangan) menunjuk salah satu kanvaser untuk sementara membantu mengerjakan beberapa tugas SPV.

Mungkin kanvaser ini merasa besar kepala dan merasa penting karena di tunjuk seperti itu. Mungkin dia merasa bahwa dia lah orang yang akan menduduki jabatan SPV nantinya. Tentu saja pihak BM memanfaatkan semangat kanvaser ini dengan menyuruh mengerjakan tugas ini dan itu.

Aku akui, kanvaser ini mengerjakan tugas melebihi dari tanggung jawab dia seharusnya. Tetapi perlu di ingat, jabatan dia masih kanvaser. Bukan SPV yang bisa seenaknya saja memberi perintah kepada kanvaser-kanvaser lainnya.

Aku juga tidak tau ada omongan apa antara BM dan Kanvaser ini… Mungkin BM mengiming-imingin jabatan SPV ke kanvaser tersebut.

Semua kanvaser lainnya, divisi logistik, divisi finance dan juga aku sebagai orang yang bertanggung jawab atas segala kegiatan di perusahaan cabangku, kami merasa dia tidak pantas jadi SPV, karena sifatnya yang keras kepala, mau menang sendiri, pokoknya tidak cocok banget deh untuk jadi SPV.

Memang selama masa-masa itu, sikap kanvaser ini sangat baik dan ramah. Aku sebenarnya kasihan melihat dia dimanfaatkan seperti itu oleh BM Lapangan. Sampai akhirnya kanvaser ini harus mengikuti test untuk bisa menjadi SPV.  Dia ikut test bersama satu orang lagi…

Dan ternyata kanvaser ini dinyatakan gagal sehingga yang terpilih adalah orang lain, bukan si kanvaser ini. Tentu saja ini kabar yang bagus. Sejak awal aku memang merasa dia tidak cocok menjadi SPV.

Dan sekarang, kanvaser ini berulah/bertingkah yang macam-macam. Awalnya pembayarannya bermasalah, tapi sekarang sudah clear karena aku membawa masalah ini sampai ke atasan di pusat. Sekarang dia bertingkah cukup menyebalkan dan mengesalkan. Datang suka terlambat, pulang kadang sengaja di sore-sore’in, tidak pernah mau ikut breafing, dll.

Aku tidak suka orang seperti itu. Karena itu menunjukkan bahwa sikap manis dia selama ini hanyalah omong kosong belaka. Seorang penjilat dan tidak profesional. Seorang pria berumur tetapi kelakuan masih kekanak-kanakan dan bertingkah seperti wanita. Bukan orang yang pantas untuk bekerja di perusahaan yang lebih dominan kepada kerjasama team seperti di tempatku sekarang ini. Memang orang seperti ini sangat tidak layak menjadi SPV.

Aku ingin menyingkirkan dia, tetapi setelah di pikir-pikir kasihan juga dengan anak dan istrinya… kadang emosi juga melihat sikap dia yang se-enak nya. Meletakkan barang dagangan dengan kasar dan menimbulkan bunyi-bunyi yang keras di meja. Jika aku mau, dia bisa aku singkirkan dengan mudah. Aku… dengan jabatanku sekarang bisa mempengaruhi orang-orang atas agar menyingkirkan dia. Aku juga bisa menunjukkan bukti-bukti tentang kinerja dia yang tidak benar dan tidak bisa diajak kerjasama tim lagi.

Tapi aku belum mau melakukan hal itu sekarang, karena aku pun punya hati. Aku sadari dia bersikap seperti itu mungkin karena merasa selama ini dipermainkan oleh BM dan dimanfaatkan. Semua hal-hal baik yang ditawarkan hanyalah iming-iming belaka… Aku mengerti perasaan kecewa yang dia hadapi. Tetapi yang tidak aku suka adalah sikapnya yang tidak profesional. Jika dia marah terhadap BM, jangan lantas bersikap semaunya di kantor dan mengganggu divisi lain!

Setelah aku renungkan, bagaimana mungkin emosiku bisa dikendalikan oleh sikapnya? Aku tidak mau semua emosi, mood dan pikiranku dikendalikan oleh kelakuan orang seperti itu. Aku tidak mau terpengaruh dengan hal ini.

Akhirnya aku belajar untuk tidak peduli. Dia boleh bersikap semaunya, tetapi aku yakin… suatu hari dia akan membutuhkan bantuan kami, dan saat itu dia akan menyesali semua kelakuannya selama ini. Jika memang kelakuannya benar-benar sudah keterlaluan, maka maaf saja jika aku harus menggunakan pengaruh dan jabatanku untuk membuang dia dari kantorku (alias memecat dia)!