Hai hai haiiii…
kali ini ak mau cerita tentang abang sulungku.
Ahhh entah darimana memulainya. Semua keluarga pasti punya kekurangan dan kelebihan. Begitu juga dengan keluargaku.
Apakah yang akan aku ceritakan ini aib atau bukan, aku rasa itu tergantung darimana kita memandang kisahku ini.
Aku sendiri berusaha untuk tetap berpikir positif bahwa kisah tentang abang sulungku ini adalah anugerah dari Tuhan, karena melalui abang sulungku ini lah kami bisa lebih dekat lagi dengan Tuhan dan tidak terhanyut pada kesombongan yang sia-sia.
Keluargaku memiliki beberapa kelebihan yang mungkin keluarga lainnya iri melihat kami. Kami 4 bersaudara, dan 3 orang dari kami lulusan universitas negeri, 2 orang diantaranya lulusan univ. negeri yang ternama di yogyakarta (UGM). Kami ber empat termasuk anak yang baik dan berbakti dengan orangtua. Sejak kecil kami memang di ajarkan untuk hidup dalam Tuhan dan patuh dengan orangtua. Banyak orangtua yang iri dengan mamaku.
Tetapi Tuhan mengijinkan pencobaan terjadi di keluargaku melalui abang kandungku yang tertua. Sejak kecil aku tidak menyangka bahwa ini semua akan terjadi.
Ya… aku memiliki abang yang labil. Orang bilang tidak normal. Memang abangku ini masih bisa di ajak berbicara dan tidak pernah mengamuk, tetapi dia lebih sering hidup dalam dunianya. Sering sekali dia tertawa sendirian, dan selalu mengeluh kalau dia melihat halusinasi.
Padahal waktu kecil, di antara kami 4 bersaudara, abangku ini adalah yang paling pintar di sekolah.
Jika aku harus mengulang kisah tentang abangku ini dari awal, waktu tiga hari tiga malam pun tidak akan cukup untuk menceritakannya.
Hari ini… saat aku sedang di kantor, tiba-tiba mama telepon dan minta aku menenangkan abangku melalui telepon. Andai kantorku dekat dengan rumah, mungkin aku sudah pulang dan menenangkan abangku itu.
Abangku telepon dan merengek-rengek minta nikah (usia abangku sekarang 33 tahun). Teriris rasanya hati ini mendengar rengekan abangku itu. Dia bilang “Abang sudah tua, sudah 33 tahun, sudah ada uban. Abang mau kawin… abang harus kawin… abang pengen kawin sekarang”, kira-kira begitulah rengekannya dengan nada memaksa.
Aku berusaha mengatur suaraku selembut mungkin agar abangku tenang. Tapi dia tetap ngotot minta nikah. Sedih sekali rasanya…
Aku hanya seorang manusia biasa. Dalam kelemahan, kadang aku merasa putus asa. Dan dalam kebimbangan, kadang terucap kata-kata “Andai aku di beri abang yang normal.” Sampai kapan kami harus menanggung beban ini? Sangat sedih sekali…
Berbagai cara sudah kami lakukan. Kami berdoa dan berusaha… pergi ke psikiater, konsultasi dan obat terus berjalan sampai sekarang. Memang ada perubahan dalam diri abangku, tapi aku ingin abangku itu normal.
Kasihan sekali mamaku, sekarang mama hanya tinggal berdua dengan abangku itu, karena kami anak-anak mama lainnya sudah pada bekerja di lain kota. Kedua saudaraku yang lainnya sekarang ada di Jakarta, sementara tempat kerjaku cukup jauh dari rumah sehingga aku harus kos. Perjalanan menggunakan motor dari rumah ke kantor sekitar 2-3 jam. Aku pulang seminggu sekali.
Jika saja bapak masih hidup, mama pasti tidak akan sendiri menanggung rengekan abangku tadi di rumah. Kasihan sekali mama…
Mungkin beberapa orang berkata, mungkin abang sulungku itu adalah tumbal, karena kehidupan keluarga kami itu tergolong baik, dengan keuangan yang baik… aku berani berkata bahwa kami tidak pernah terlibat dengan dukun atau ilmu hitam lainnya. Kami tidak pernah mengumpulkan harta dari hasil yang tidak benar. Orangtuaku selalu mengajarkan kami tentang hidup di dalam Tuhan, jangan berbuat dosa. Bahkan untuk korupsi 10 ribu saja di kantor, aku tidak berani, karena kami memang terbiasa untuk hidup takut akan Tuhan.
Mama selalu berkata, lebih baik kita makan tahu tempe tetapi dari hasil yang benar daripada kita berkelimpahan berlian tetapi dari hasil yang tidak benar.
Lalu jika bukan tumbal, lalu mengapa Tuhan mengijinkan pencobaan ini terjadi??? Pasti karena Tuhan sangat mengasihi keluargaku. Jika keluargaku sempurna, mungkin kami akan melupakan Tuhan dan hidup terlena dengan dunia ini. Walau demikian, aku percaya perncobaan ini tidak akan selamanya kami tanggung. Jika pun harus kami tanggung, kamu percaya kami tidak menanggungnya sendirian, karena ada Tuhan yang menopang dan membantu kami melewati situasi demi situasi yang terjadi akibat ulah abang sulungku ini.
Memang rasanya berat, sedih dan kadang aku takut menjalani masa yang akan datang. Itu menandakan bahwa aku manusia yang lemah dan butuh Tuhan.
Satu yang pasti, aku mengasihi keluargaku terutama abang sulungku, dan aku tidak akan pernah malu mengakui dia sebagai abangku.
I love you my eldest brother… We love you so much…