Aku tau bahwa pada akhirnya aku harus mengambil keputusan. Tidak mudah bagiku memutuskan hal ini. Entah apakah aku memutuskannya demi kepentinganku sendiri, atau karena hati nurani mulai gerah dan memberontak, atau demi kebaikan dia…. Entahlah. Aku dilema.
Aku sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal, dan aku tau… akan ada hati yang terluka. Kata maaf pun tak akan cukup untuk menghapus luka itu… Aku pantas di benci dan dihakimi.
Andai saja sejak dulu aku mengambil keputusan, mungkin luka ini tak akan terlalu dalam. Berulang kali hati kecilku mengucapkan kata maaf… Sia-sia memang… Apa yang harus aku lakukan? Diam saja? Bersikap seolah-olah tidak ada masalah? Tetap tenang dan menganggap semua kan berlalu begitu saja???

Dua minggu yang lalu tulisan di atas sempat aku tulis saat aku ingin mengakhiri hubungan dengannya. Karena aku berpikir, alangkah takutnya aku menyakiti hatinya lebih dalam lagi. Berpikir bahwa aku tidak pernah mencintainya dan tenggelam dalam luka lama. Di tambah dengan tidak ada’nya dukungan dari keluarga, membuat aku semakin frustasi dan di ambang kehancuran.

Malam itu, aku menguraikan semua perasaan terdalamku kepadanya. Mengatakan bahwa sejak awal aku menerima dia, itu hanya sebuah pelarian semata. Seperti ingin menyatakan kepada si pembuat luka, bahwa aku bisa bahagia tanpa dia dan masih ada yang mau bersanding denganku. Hal itu semata-mata hanya karena keangkuhan dan kesombonganku, tidak mau mengakui bahwa hatiku terpuruk dan terluka begitu dalam. Bersikap seolah-olah semua baik-baik saja dan pasti terkendali.

Tapi nyatanya, jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, ada rasa kesepian menyelimuti, rasa berkabung yang tak ada ujungnya, bukan karena ditinggal mati, tetapi karena di tinggal dalam puing-puing dan reruntuhan harapan yang pernah dibangun. Rasa kecewa yang amat dalam, dimana aku merasa telah diberi harapan palsu dan itu sangat menyakitkan.

Aku pun tak ingin memberi harapan palsu kepadanya. Seorang kekasih yang awalnya tidak aku cintai, yang mengharapkan sebuah hubungan yang lebih serius sampai kepada jenjang pernikahan. Aku tidak mau melukainya dan memberi harapan palsu. Sampai akhirnya aku mengambil keputusan itu. Berbicara kepadanya tentang segala hal yang selama ini terpendam, tentang semua ketakutanku akan masa depan dan kekecewaan yang tidak ada ujungnya. Ya, aku mengakui semuanya dihadapannya dan berkata “kita akhiri saja semua, carilah wanita yang lebih baik lagi.”

Rasanya cukup lama durasi aku berbicara, sepertinya sudah berjam-jam, dan dia hanya diam serta mendengarkan. Setelah aku selesai berbicara, dia mengatakan “Tidak apa-apa. Walau awalnya hanya sebuah pelarian, itu tidak apa-apa. Yang penting ke depannya kita jalani dengan benar.”

Kemudian dia mulai mengatakan hal-hal lain yang meyakinkanku, menguatkanku, meneguhkanku, sekaligus menghiburku. Tidak ada kemarahan dalam nadanya, dan pada akhirnya aku kembali merasa jahat kepadanya.

Bagaimana mungkin aku bisa menolak seseorang yang begitu baik, perhatian, bertanggung jawab, dan sabar seperti dia? Yah… aku akui dia memang bukan tipe penyabar, tetapi malam itu dia bisa bersikap sabar kepadaku. Dia memang selalu bersikap sabar kepadaku. Aku tau bahwa dia selalu berusaha keras untuk bisa sabar menghadapiku.

Aku merasakan sebuah penerimaan secara utuh yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Sebuah keterbukaan dan kejujuran, membuatku mengerti dan bisa memandang hubungan kami dari sudut yang berbeda. Saat aku mengakui semua kekecewaanku yang terpendam, sakit hati karena pria lain, dan rasa tidak percaya akan cinta… Dia tidak cemburu dan juga tidak menghakimiku.

Yah, sekarang aku merasakan ada yang berbeda dalam hati dan pikiranku. Semangatku yang dulu hilang, kekuatan dan gairah yang selama ini hanya rekayasa serta dibuat-buat… Sekarang semua berubah. Aku mulai berani berharap dan berpikir bahwa dia berbeda dengan yang dulu. Dia tak akan menyakitiku dan meninggalkanku seperti yang dulu.

Aku mulai sering melamun dan tersenyum. Aku tersenyum setiap mengingat bagaimana cara dia berbicara dan bersikap. Aku tersenyum saat membayangkan wajahnya yang mengernyit karena tingkahku yang plin plan. Aku tersenyum saat membayangkan dia selalu hadir setiap hari dalam pikiranku, membayangkan wajahnya, matanya yang coklat, rambutnya yang bergelombang, kumisnya yang tipis, caranya berjalan, caranya berbicara, bagaimana matanya seperti berbinar dan menyala-nyala saat dia mengatakan tentang konsep-konsepnya untuk masa depan.

Mungkin, aku mulai jatuh cinta…

Aku sungguh beruntung, karena dia mau memilihku menjadi pendampingnya. Dan aku suka sikapnya yang tidak menyerah saat aku ingin mengakhiri semuanya. Dia mempertahankanku dan itu membuat aku merasa begitu berharga. Terimakasih untuk dia yang mau menerima semua kelebihan dan kekuranganku.

Sebuah kejutan lagi yang aku terima… Tiba-tiba mama memanggilku dan bertanya tentang dia. Untuk pertama kalinya mama bertanya tentang dia serta bagaimana keyakinanku terhadap dia. Untuk pertama kalinya aku merasakan sebuah dukungan dari mama. Biasanya mama selalu menolak dan menganggap remeh tentang hubungan kami, tetapi kemarin… Sungguh luar biasa. Aku rasa sekarang aku siap…  Yah, aku siap untuk menikah dengan dia.

Karena beberapa hal, pernikahan kami memang harus di undur, tetapi sekarang aku sudah siap mental.   Aku berharap Januari 2013 akan menjadi saksi 2 insan yang akan menyatu dan bersama-sama membangun mahligai rumah tangga dimana Tuhan sebagai pondasinya, beratapkan kejujuran, beralaskan kepercayaan, dan komunikasi sebagai dinding-dindingnya, hingga maut memisahkan. Amin!