Waktu lagi di kantor, tiba-tiba aku teringat dengan kisahku saat aku kuliah dulu… Xixixi lucu bercampur geli plus takjub juga sih… Kok bisa begitu yah???

Siapa sih yang tidak pernah berbohong dalam hidupnya? Semua orang pasti pernah kan? Termasuk aku…

Aku ingat dulu waktu kuliah semester ke 3, aku pernah membohongi alm. bapak aku… Waktu itu ceritanya aku bilang mau ikut les bahasa inggris dan biaya lesnya kalau tidak salah sekitar 350 ribu deh… Uangnya di cicil 2 kali. Begitu ceritanya… Padahal aslinya aku tuh tidak pernah ikut les inggris dan uangnya mau aku gunakan untuk beli ini dan itu…

Saat uang cicilan pertama diberikan sebesar 175 ribu, tanganku langsung berkeringat. Aku bingung uang segini mau di apain yah… Kalau tidak salah saat itu tahun 2000 dan pada tahun segitu uang 175 ribu itu banyak banget untuk ukuran anak kuliah.

Terus selama beberapa malam aku tidak bisa tidur karena memikirkan kebohonganku. Hati nuraniku sepertinya memberontak dan menyalahkan diri sendiri. Kenapa harus berbohong???

Seperti biasa kalau di film-film itu biasanya kalau hati lagi dilema langsung muncul 2 malaikat di kiri dan kanan. Yang kanan malaikatnya pakai sayap (artinya malaikan baik), terus yang kiri malaikatnya ada tanduk (artinya malaikan jahat).  Nah dua malaikat itu sepertinya saling berlomba berbisik di hatiku saat itu.

Yang satu mengatakan aku harus segera jujur dan mengaku, yang satu lagi berkata tidak perlu mengaku toh tidak ada yang tau. Soal dosa mah tinggal minta ampun aja kaleee ama Tuhan, gitu aja kok repot.  Gubraaaakkkk…

But, saat itu aku benar-benar dilema. Sementara seiring berjalannya waktu, uang 175 ribu itu pun akhirnya habis entah aku belikan apa. Tapi tetap saja hati nuraniku memberontak dan tidak damai. Setiap bertemu bapak di rumah, aku seperti merasa tertuduh dan malu sekali. Aku merasa aku nih jahat banget yah sama bapak sendiri….

Sampai akhirnya, Sore itu kira-kira jam 3 sore. Seorang kenalanku, aku memanggilnya bang Adi. Dia meneleponku dan bertanya kabarku. Aku tidak tahan untuk mencurahkan kegalauanku saat itu. Akhirnya bagai air yang menguncur dengan derasnya, aku menumpahkan semua pergumulan dan kebohongan yang telah aku lakukan kepada bapak. Aku takut… benar-benar takut dan merasa bersalah. Saat itu bapak sudah memberikan uang cicilan ke dua sebesar 175 ribu lagi. Aku benar-benar diambang ketakutan. Aku tidak mau menjadi anak yang jahat. Sementara kalau jujur, aku takut bapak akan marah dan tidak mempercayaiku lagi.

Akhirnya bang Adi menceritakan sebuah ilustrasi…

Alkisah tentang si bungsu dan si sulung yang tinggal bersama neneknya. Dalam cerita itu si nenek memiliki bebek kesayangan. Setiap hari si nenek selalu memberi makan si bebek, mengajak ngobrol, bahkan tidak jarang sang nenek menghabiskan seluruh waktunya bersama si bebek.

Saat itu si sulung sedang main ketapel di perkarangan rumah. Dan entah mengapa ketapelnya tanpa sengaja mengenai kepala si bebek dan akhirnya bebek itu pun mati. Si sulung benar-benar ketakutan. Si sulung tidak berani mengakui perbuatannya kepada sang nenek, karena si sulung tau bebek itu adalah bebek kesayangan nenek.

Nenek pasti akan marah besar dan memberi hukuman yang berat kepada si sulung.  Pada saat yang sama si bungsu melihat perbuatan si sulung. Kemudian si bungsu pun mulai mengancam si sulung. Kalau si sulung tidak menuruti kemauan si bungsu, maka si bungsu akan memberitahu nenek kalau bebeknya mati karena perbuatan si sulung.

Begitu ketakutannya si sulung saat itu. Akhirnya si sulung pun mengikuti kemauan si bungsu. Asalkan rahasianya tidak terbongkar, dia pasti aman.

Saat makan malam tiba, biasanya tugas mencuci piring adalah si bungsu, tetapi dengan mata mendelik si bungsu memberi isyarat agar si sulung yang mencuci piring. Si sulung menuruti semua kemauan si bungsu. Dari mencuci piring, tugas menyiram tanaman, mengerjakan PR, menyapu rumah, dll.

Nenek pun bingung melihat perubahan sikap si sulung yang sepertinya begitu takut sama si bungsu. Tetapi nenek diam saja.

Sampai suatu saat si sulung tidak tahan lagi dengan perlakuan semena-mena adiknya itu, akhirnya malam itu si sulung memberanikan diri menemui neneknya dan mengakui semua kesalahannya.

Sambil beruraian air mata, si sulung menceritakan perbuatannya yang tidak sengaja membunuh bebek kesayangan neneknya dan meminta maaf. Selesai bercerita, dengan kepala tertunduk, takut bercampur cemas dengan hukuman apa yang akan menimpanya, si sulung bersiap-siap menerima amarah dari sang nenek.

Tapi detik demi detik berlalu dan tidak ada makian atau cercaan atau hukuman dari neneknya. Akhirnya si sulung pun mengangkat kepalanya dan menatap wajah sang nenek.

Alangkah terkejutnya si sulung saat melihat wajah sang nenek tersenyum. Akhirnya nenek pun berkata, “Cucu ku sayang… sudah lama sekali nenek menanti pengakuanmu ini. Sebenarnya saat kamu membunuh bebek kesayangan nenek itu, nenek ada di sana dan melihat semuanya. Tapi nenek sengaja diam dan menanti pengakuanmu. Biar kamu tau, kamu jauh lebih berharga dari bebek kesayangan nenek. Kalian berdua adalah harta nenek yang paling berharga di dunia ini.”  Ucap nenek sambil membelai lembut rambut si sulung.

Selesai bercerita, bang Adi mengatakan bahwa kadang apa yang ada di kepala kita itu belum tentu terjadi seperti yang kita pikirkan. Mungkin kita berpikir kalau saya begini maka hasilnya akan begini… padahal belum tentu seperti itu.

Sore itu bang Adi memberi aku pencerahan dan menguatkanku. Bang Adi berkata bahwa aku harus jujur dan mengakui semuanya kepada bapak. Sebelum menutup telepon, bang Adi sempat mengajak aku berdoa bersama.

Malam itu, aku kembali tidak bisa tidur. Sepertinya hati nuraniku mulai bekerja. Sampai akhirnya jam 3 malam aku mengambil keputusan bahwa aku akan jujur besok pagi kepada bapak.

Ke esokan paginya, seperti biasa bapak mengantarkanku ke sekolah naik mobil. Di mobil hanya ada aku dan bapak saja, karena adik aku yang bungsu saat itu masuk sekolahnya siang hari.

Dengan tangan bergetar, aku mulai mengakui semua kebohonganku kepada bapak. Aku takut tapi aku sudah bertekad untuk jujur. Aku tidak mau menjadi anak yang jahat… Saat aku bercerita, bapak hanya diam saja. Kemudian setelah aku selesai bercerita, tiba-tiba bapak bilang seperti ini… “Ya sudah tidak apa-apa kalau begitu. Jadi apa kamu mau les bahasa inggris lagi? Kalau uangnya sudah habis nanti bapak ganti.”

Tidak ada kemarahan dalam diri bapak, tidak ada kata penghakiman atau makian. Benar seperti apa yang bang Adi katakan, apa yang kita pikirkan belum tentu kenyataannya terjadi seperti itu.

Aku tau Tuhan sudah bekerja atas diriku dan diri bapak. Aku rasa kejadian itu memberikanku hikmah tersendiri. Dan aku bersyukur atas telepon bang Adi saat itu.

Eh iya, tau gak… menurutku bang Adi itu malaikat loh… Soalnya ada yang aneh deh… Masa setiap aku lagi gundah atau dilema atau ada masalah, bang Adi pasti selalu menghubungiku tepat pada waktu aku membutuhkan solusi dan jalan keluar. Dan sampai detik ini aku belum pernah bertemu dengannya. Aneh kan… aku rasa dia memang malaikat yang Tuhan kirim untuk membantuku dalam menyelsaikan masalah-masalahku.  @_@