Kadang ada saat-saat tertentu dimana aku begitu merindukannya dan ingin sekali berteriak memanggil namanya. Dan aku tau, sia-sia memanggilnya sekeras apapun suaraku, karena dia tidak mungkin mendengarku lagi.

Kadang aku berusaha menepis semua kesedihan di hati, menepis semua pikiran-pikiran negative yang muncul, berusaha untuk tetap bergairah dan bersemangat… Namun pada saat-saat tertentu… yah, hanya pada saat-saat tertentu… aku merasa begitu lemah, lunglai dan tak bertenaga.

Aku kira semua orang pasti pernah mengalaminya. Saat-saat dimana kita merasa down dan ingin sekali menangis sekencang-kencangnya. Entah itu yang dinamakan terlalu mendramatisir perasaan atau terlalu lebai… tapi itulah yang terjadi.

Seperti biasa, setiap satu minggu sekali aku pasti selalu pulang ke rumahku di kota. Perjalanan yang aku tempuh bisa mencapai lebih dari 100 kilo dengan menggunakan motor kesayanganku. Biasanya aku pulang melewati daerah Tanjung Bintang… tetapi khusus hari sabtu kemarin aku pulang melewati daerah kota Metro. Perjalanan melewati kota Metro bisa mencapai 1,5 kali lipat dari rute perjalananku yang biasanya.

Saat melewati kota Metro, tiba-tiba aku teringat dengan alm.bapak… aku melewati kota metro tidak begitu kencang… kecepatan standart… kadang kecepatanku 80km/jam dan kadang 60km/jam. Selama perjalanan aku merenungkan… jalan-jalan inilah yang dulu sering dilalui bapak. Entah mengapa selama perjalanan dari Metro menuju ke rumah wajah bapak terus bermain-main di bola mataku. I really miss him… really… so much…

Saat pulang ke rumah, aku duduk di ruang santai di depan tv. Aku kembali teringat kejadian saat-saat terakhir bapak masih hidup. Lagi dan lagi…  Aku seperti berada di rumah sakit, melihat diriku berteriak histeris, memanggil nama Tuhan, dan harus di tenangkan oleh para perawat. Aku seperti mendengar suara salah seorang kenalanku berkata-kata saat pertama kali aku diberitahu bahwa bapak telah pergi.  Lagi… dan lagi… Aku seperti melihat diriku sendiri ada di antara kerumunan para pelayat… dan aku hanya bisa duduk terdiam di samping peti jenazah. Aku tidak menangis, aku hanya diam terpekur mendengar jeritan tangis dari mama di sampingku sambil menatap wajah kaku bapak di dalam peti. Tidak ada air mata yang keluar dari mataku saat itu… tidak setetespun.

Sampai saat terakhir peti jenazah itu akan di tutup… saat itu tangisku baru meledak… dan aku masih ingat saat aku mengacungkan jari telunjukku. “Satu menit lagi… beri aku satu menit lagi dan biarkan aku melihat wajah bapak untuk yang terakhir kalinya… Hanya satu menit saja… ” Aku memohon kepada orang-orang yang akan menutup peti itu. Aku berusaha melihat bapak tanpa berkedip, satu menit yang tak terlupakan, kemudian aku mengecup keningnya untuk yang terakhir kalinya, dan akhirnya aku berpaling, mundur, saat peti itu di tutup.

Mengapa aku harus menulis semua ini? Bukankah sudah aku katakan bahwa semua orang punya kisahnya masing-masing? Punya kesedihan masing-masing? Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku harus menulis semua ini di blog ini… entah apakah untuk mencari simpati dan perhatian dari pembaca, atau untuk kepuasan diriku sendiri. Entahlah…

Seringkali kita baru menyadari arti dari menyayangi seseorang saat kita kehilangan orang tersebut. Begitu juga dengan cinta… Banyak orang baru sadar mencintai seorang wanita atau pria saat mereka telah pergi. Bukan hanya cinta sepasang kekasih saja, tetapi juga bagaimana kita melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang kita sayangi.

Kadang saat seseorang telah pergi, kita menyesal karena belum sempat melakukan ini atau itu, belum sempat membahagiakannya… yang tersisa hanya sebuah penyesalan yang sia-sia. Itu kah yang kita inginkan? Tentu saja tidak.

Oleh sebab itu, jangan sia-siakan waktu yang ada.  Berbuat baiklah selagi kita bisa melakukannya. Senangkan hati orang-orang yang mengasihi kita dan yang kita kasihi… bahagiakan mereka dengan sikap kita. Agar suatu hari kelak, saat mereka pergi, tidak ada kata penyesalan yang tersisa.