Ada orang bijak berkata bahwa cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan.
Semua orang pasti membutuhkan uang, membutuhkan uang dan mencintai uang adalah 2 kalimat yang memiliki makna yang sangat berbeda.
Demi uang, hubungan persaudaraan sudah tidak di pandang, semua menjadi musuh, saling bertengkar, iri hati, dengki, menjatuhkan, mengadu-domba, dan saling menusuk satu sama lain.
Bayangkan ketika kita sudah menjadi tua, dengan harta berkelimpahan, mempunyai beberapa orang anak yang hanya memikirkan uang, harta, dan warisan. Sungguh menakutkan menjadi orangtua yang seperti itu. Ketika melihat anak-anak kita saling menyerang karena harta. Padahal kita masih hidup. Bagaimana perasaan kita, saat anak-anak kita selalu membicarakan tentang warisan, padahal kita sendiri masih hidup??? Apakah itu sama artinya dengan menyumpahi kita cepat mati??? Sungguh menyedihkan menjadi orangtua yang seperti itu. Ketika mereka di minta untuk mengurus kita di hari tua kita, mereka saling tidak mau peduli dan saling melimpahkan tanggung jawab kepada yang lain. Namun apabila membicarakan tentang warisan, masing-masing anak saling berlomba mengacungkan jarinya… semua karena harta! Apa yang akan terjadi kepada anak-anak kita nanti jika kita mati nanti? Mungkinkah mereka akan saling membunuh satu sama lain? Karena dimana hartamu berada, disitu juga hatimu berada.
Aku berharap bahwa hidupku tidak akan mengalami kejadian menyeramkan seperti itu. Aku berharap bahwa jika Tuhan Yang ESA memberikan kepercayaan kepadaku harta berkelimpahan, anak-anak ku tidak akan menjadi anak yang durhaka, namun tetap memiliki hati yang takut akan Tuhan, penuh kasih, rendah hati, dan lemah lembut.
Aku bersyukur dan bangga memiliki mama yang hebat. Mama yang selalu mengajarkan tentang pelajaran kasih. Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.
Ketika mama pulang dari medan kemarin, alangkah sedihnya hati ini mendengar bagaimana kehidupan paman dan tanteku di sana. Bagaimana mereka memperlakukan nenek ku. Bahkan sepupuku pun ikut berlaku jahat. Aku begitu sedih… jika saja nenek memiliki kekuatan untuk bisa melakukan perjalanan jauh, aku ingin nenek di bawa ke lampung. Biar kami yang mengurus nenek di sini. Namun kondisi kesehatannya dan keadaan fisiknya sudah sangat lemah sekali. Dokter pun tidak mengijinkan nenek untuk naik pesawat terbang.
Aku ingin sekali bisa merawat nenek, dan kami tidak peduli dengan harta benda yang dimiliki nenek. Bahkan sekiranya kami tidak mendapat bagian apapun dari apa yang dimiliki nenek, kami ikhlas. Karena tanpa harta nenek, kami bisa hidup dengan nyaman dan sejahtera. Hanya satu yang aku inginkan, yaitu merawat nenek dan membuatnya bahagia sampai ajal menjemput.
Karena apa yang kita tabur, itu yang akan kita tuai kelak. Saat kita menjadi seorang anak, memang ada kalanya kita melawan orangtua, namun jika kita sudah durhaka terhadap orangtua kita sendiri, suatu saat anak-anak kita pun kemungkinan besar akan seperti itu kepada kita.
Materi, uang dan harta itu bisa habis dalam sekejap. Bahkan jika Tuhan mau, DIA bisa melenyapkan segala apa yang kita punya di dunia ini untuk meruntuhkan kesombongan kita… Allah Maha Besar!
Saat ini, hanya doa yang dapat aku panjatkan kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi, agar dimanapun nenek berada, hidupnya selalu dijaga… agar Tuhan mau mengirimkan orang-orang tulus untuk merawat nenek di medan, dan agar Tuhan memberikan mukjizatnya agar nenek bisa sehat dan di bawa ke lampung untuk kami rawat sampai akhir hayatnya.
Ingatlah… apa yang kita tabur, itu yang akan kita tuai! Jika kita ingin anak-anak kita membahagiakan kita di hari tua kita nanti, maka bahagiakanlah orangtua kita sendiri di hari tua mereka saat ini.
I love you grandma…