Tahun kemarin, setelah aku resign dari tempat aku bekerja, aku sempat mengalami sedikit kebingungan. Usia segini, apa masih ada yang mau menerima aku jadi karyawan? Seperti umumnya pengangguran baru, mulailah aku bergegas membeli koran, cari lowongan di sana dan di sini, rajin-rajin search lowongan di internet, bla bla dan bla…
Namun sayangnya rata-rata lowongan yang sesuai dengan bidangku adanya di Jakarta.
Hehehe kadang aku ketawa sendiri, dulu aku begitu menggebu-gebu ingin pindah ke Jakarta, ada banyak harapan dan hal-hal yang aku bayangkan kalau sudah di Jakarta. Mungkin aku membayangkan bahwa pekerjaanku nanti akan sama seperti ketika aku bekerja di Bekasi tahun 2005 yang silam.
Tahun 2005-2006 adalah masa-masa terbaikku. Banyak kenangan indah yang tidak mau aku lupakan. Disana lah gambar diri dan rasa percaya diriku mulai terbentuk. Aku menyukai masa-masa itu dan ingin sekali mengulangnya lagi. Tapi situasi sekarang berbeda. Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, orang-orang yang aku kenal dulu tidak sama dengan orang-orang yang aku kenal saat aku kembali menginjakan kaki kesana tahun 2013. Sempet kecewa, tapi tidak apa-apa.
Akhirnya aku kembali lagi ke Lampung.
Sampai pada saat Natal kemarin, abang kandung aku yang kedua bersama adikku datang ke lampung. Kami banyak sharing, dan tiba-tiba abang aku itu bilang “Kenapa tidak usaha sendiri saja?”
Aku bilang, aku udah mencoba usaha merajut, tapi hasilnya tidak maksimal karena mungkin kelemahanku ada di marketing. Aku memang sembari menjual motor di Lampung, cuma untuk itu juga butuh modal yang besar.
Sehari sebelum abangku kembali ke Jakarta (awal tahun baru 2014), seperti biasa abangku pasti akan membeli oleh-oleh untuk temannya di Jakarta yaitu keripik pisang coklat dan pempek palembang. Lalu tiba-tiba abang aku bilang, “Kenapa tidak usaha makanan saja? Kalau jual makanan pasti lebih mudah dan keuntungannya pun bisa 100%. Coba loe buat pempek palembang, prospeknya bagus, apalagi kalau rasanya enak, pasti akan banyak peminat. Buat sesuatu yang berbeda. Kalau orang kasih A, maka loe harus bisa kasih A+B.”
Singkat cerita aku mulai tertarik dengan apa yang dikatakan abang aku itu. Hehehe beruntung juga sih punya abang yang punya pandangan ke depan. Apalagi dia mengatakan soal modal tidak usah di pikirin. Wah, itu jadi tiket utamaku untuk ber-wiraswasta ria.
Banyak yang bilang aku pintar buat kue, seperti nastar, bolu, puding, dll. Akhirnya aku pun mulai berkreasi di dapur. Hahaha kreasi pertama, hasilnya dapurku acak-acakkan. Tepung sagu bertaburan dimana-mana. Namun setelah 2 jam lebih aku bergumul di dapur, jreeeeeeng… terhidanglah pempek buatanku. Bentuknya bagus, kalau di lihat kasat mata rasanya sepertinya enak. Baunya juga khas pempek palembang, ada bau ikan dan tampaknya menggiurkan.
Dengan penuh percaya diri, aku menyuguhkan pempek tersebut dihadapan sang mama tercinta.
Masih teringat dengan jelas bagaimana mata mamaku berbinar penuh sukacita saat aku menyuguhkan pempek tersebut di depan matanya (jiahhhh lebay….). Akhirnya deg-degan plus penasaran, sambil aku pandangi wajah sang mama (juri pencicip), mama aku pun mulai mengambil pempek tersebut, terus dicelup-celupkan ke cuka dan tibalah gigitan pertama. Jreeeeeeeeeeeeeeeng… kenapa wajah mama jadi aneh begitu yah??? Bibirnya maju ke depan, giginya menyeringai, sedikit mengernyit akhirnya pempek tersebut berhasil ditelannya. Setelah agak lama mengunyah akhirnya sang juri pun berkata “Butet, pempeknya kok keras begini yah?”
What???? Langsung aku ambil sepotong dan aku coba gigit. Ampun dehhhh, serasa makan batu karet. Keras bangettttt… Hikzzz… tapi aku coba berbesar hati, namanya juga baru pertama kali belajar maaaa…
Yah, setidaknya aku sedikit terhibur saat melihat Laura menyantap pempekku dengan lahap (Laura adalah nama anjing keturunan dalmantion kesayanganku).
Beberapa kali aku melakukan eksperimen. Dengan berbagai macam resep dan adonan, akhirnya sekarang pempekku bisa lebih lembut dan gurih. Thanks to God!
Setelah aku berhasil membuat pempek yang enak, besoknya aku mendapat panggilan pekerjaan. Capedehhhh… Di situ niat usahaku kembali di uji. Aku di tawari salary awal 3juta, tinggal di mess dan harus siap hidup di perkampungan (karena perusahaan tersebut adalah perusahaan tambang batubara). Namun, aku harus di kontrak 2 tahun dan tidak boleh menikah saat masa kontrak tersebut. Gubraaaaaaaaakkkk…
Setelah panggilan kerja tersebut, aku pun mengambil keputusan… memilih antara bekerja atau berwiraswasta. Akhirnya aku beranikan diri dan membulatkan tekad untuk berwiraswasta. Aku berkata pada diri sendiri, sudah cukup aku melamar kerja, aku tidak mau lagi disibukkan dengan berkas-berkas lamaran, fotocopy ijasah, pas photo terbaru, dll. Aku putuskan utk tidak akan melamar pekerjaan lagi dan fokus di usaha makanan. Toh kalau bekerja di kantoran paling gaji yang aku dapatkan hanya naik tipis setiap tahunnya. Sementara kalau usaha sendiri, aku bisa mengatur waktu dan aku sangat yakin penghasilanku bisa lebih meningkat.
Doakan aku yah teman-teman agar usaha ini bisa berjalan lancar dan sukses. Ciayooo…