Entah bagaimana mengungkapkan apa yang ada dipikiranku saat ini. Aku mengalami beberapa hari yang berat. Sangat berat. Entah lah, kadang aku berpikir, sungguh alangkah baiknya jika aku dilahirkan dari suku yang berbeda. Mungkin akan lebih baik juga jika aku memiliki seorang saudara wanita. Menjadi anak wanita tunggal dalam keluarga dari suku batak, membuatku sangat tertekan. Teramat sangat tertekan sekali.

Kadang hati berpikir, jika saja Alm. Bapak tidak memberikan pesan kepadaku sebelum kepergiannya, mungkinkah aku tetap bertahan di rumah?

Teman-teman selalu menganggap aku wonder women. Seorang wanita yang penuh dengan sikap positif dan optimis. Ya, memang aku akui, aku selalu memaksakan diriku untuk selalu berpikiran positif. Fokus pada solusi, bukan pada masalahnya. Itu lah yang selama ini berusaha aku terapkan dalam hidup.

Namun, kadang ada rasa lelah… Aku juga wanita biasa. Aku juga punya ketakutan dalam hidup. Rasanya saat mereka bilang, mereka ingin menjadi sepertiku, alangkah enaknya menjadi aku, hati ini ingin berteriak kencang sembari berkata, “Aku tidak seperti itu! Aku tidak seperti yang kalian pikirkan! Aku juga manusia! Aku butuh seseorang!”

Ada rasa lelah menghinggapi hatiku, saat aku harus selalu mendengarkan, dan dimintai solusi. Seorang psikiater dan psikolog ternama pun pasti pernah merasa letih dan lelah. Aku manusia biasa.

Sampai suatu hari, aku merasa menemukan seseorang yang bisa mengerti dan memahamiku. Ternyata seperti ini rasanya diperhatikan, dipedulikan, dan dimengerti. Aku sempat terpana dan tercengang ketika suatu hari dia menelponku dan berkata bahwa tiba-tiba hari itu dia selalu teringat diriku, dan dia menanyakan apakah aku sedang ada masalah? Jujur, saat dia telpon, saat itu adalah saat-saat aku menghadapi suatu pergumulan yang sangaaaaat berat dan tidak seorangpun yang tau.

Dan dia, satu-satunya orang yang bisa peka terhadap situasiku. Jujur, dia bahkan lebih baik dari cinta pertamaku. Selama ini aku berpikir, tidak ada yang lebih baik dari cinta pertamaku. Untuk pertama kalinya aku menemukan seseorang yang tidak hanya selalu ingin di dengarkan, tetapi seseorang yang mau bertanya dan mendengarkanku.  Untuk pertama kalinya aku merasa TIDAK berada di posisi yang harus selalu mendengarkan dan seolah-olah dituntut untuk memberikan jalan keluar.

Aku sadar, ada rasa saling membutuhkan di antara kami berdua. Rasa saling itu yang membuatku begitu nyaman berada di dekatnya. Sifat, sikap, dan tanggung jawabnya itu mendekati sempurna seperti yang aku inginkan. Dia tidak menganggap aku wanita wonderwomen. Dia tau aku juga wanita yang lemah.

Aku masih ingat, bagaimana dia rela menyemir rambutnya hanya untuk bertemu denganku. Sekalipun dia tau bahwa dia alergi terhadap semir rambut. Aku tau dia ingin tampil baik di depanku. Jujur, aku kasihan melihat dia merasa kesakitan karena kulit kepalanya luka-luka akibat alergi terhadap semir rambut. Ada hal-hal yang sulit aku sampaikan, tapi aku cukup mengagumi sikapnya yang ingin selalu mau bertanggung jawab dan melindungi.

Tapi, kenapa cinta terbaik yang aku rasakan hanya sekilas saja? Perbedaan suku yang cukup kontras, perbedaan lokasi yang jauh sehingga membuat mama menentang keras hubunganku. Dan aku harus kehilangan dia. Pria dewasa yang  bisa membuatku merasa berarti, membuatku merasa dia sungguh-sungguh mengenalku. Dia lebih baik dari cinta manapun yang pernah singgah di hatiku.

Aku kehilangan dia. Dan aku merasa sangat sedih. Hanya di blog ini aku bisa mencurahkan semuanya. Mengapa? Karena semua orang yang mengenalku menganggap aku ini wonderwomen yang tidak pernah bisa merasa sedih dan frustasi. Mereka terlanjur men-judge ku sebagai wanita mandiri super yang tidak membutuhkan pertolongan apapun.

Suatu sore, saat pulang kerja. Aku bertanya dengan serius kepada mama, apakah mama tidak akan pernah merestui jika aku mendapatkan pria yang tinggal diluar kota? Aku tau mama takut aku pergi dari Lampung. Mungkin mama ingin melimpahkan tanggung jawab mengurus abang sulungku yang penyandang difabilitas itu kepadaku.

Kadang aku merasa hidupku ini tidak adil. Mengapa, kenapa, bagaimana? Semua pertanyaan itu berputar dikepalaku. Tidak kah mama melihat bagaimana sikapku selama ini? Sampai kapan pun, aku tidak mungkin lepas tangan dari abang sulungku. Aku mengasihi abang sulungku dan aku pasti akan berusaha merawatnya sebaik mungkin… Kadang ada rasa iri menghinggapiku, alangkah enaknya saudara lelaki ku yang lainnya. Mereka bisa memilih pasangan mana saja yang mereka suka. Mereka bisa hidup di kota mana saja yang mereka suka. Mengapa aku harus dilahirkan sebagai anak wanita tunggal di keluarga batak? Mengapa abang sulungku tidak bisa hidup normal? Dimana letak salahnya? Yah, itu sebagian pertanyaan bodoh yang sering terbersit di benak ku.

Aku ingin bahagia. Saat dia mengajakku lari… “Ayo kita kawin lari” begitu katanya berulang-ulang kali… Jujur rasanya, saat itu, aku ingin segera lompat terbang ke tempat dia berada dan tinggal bersamanya selama-lamanya. Tapi, masalahnya tidak semudah itu. Aku punya mama dan seorang abang yang harus aku urus. Aku tidak sanggup menghancurkan perasaan mama dan membuatnya sendirian seperti itu. Bahkan sekalipun aku sering merasa mama tidak adil terhadapku, tapi aku mengasihi mama. Dan juga… Alm. Bapak pernah memberiku beberapa amanah. Saat itu aku masih kerja di Jakarta, tiba-tiba saat malam, bapak telepon dan mengatakan banyak hal. Salah satunya, aku harus selalu mendengarkan mama. Sebulan kemudian, setelah telepon itu, bapak meninggal.

Kadang, di dalam kelemahan dan keputus-asaan, aku sering berkata “Mengapa aku harus bertemu dia jika pada akhirnya hanya akan melukaiku? Mengapa Tuhan ijinkan semua ini terjadi?”

Saat ini, aku seperti hidup tanpa tujuan. Seperti hilang arah. Pergi pagi, pulang sore, melakukan aktivitasku seperti biasa. Setelah itu bengong sebentar, gitaran sebentar, kemudian tidur. Keesokan harinya aku akan melakukan hal yang sama, pergi pagi sampai sore, melakukan aktivitas mencari uang, kemudian sampai di rumah aku tidak punya hasrat utk melakukan apapun, bahkan menonton televisi pun aku malas. Hanya bengong dan kadang-kadang memetik gitar.

Aku menabung untuk pernikahanku kelak, tapi apa gunanya itu semua? Apa gunanya tabunganku itu? Toh, masa depanku di atur oleh mama. Aku hanya seorang robot yang tidak punya hak untuk memutuskan apa-apa. Jika saja abang sulungku bukan penyandang difabilitas, aku pasti akan lari dan memutuskan jalan hidupku sendiri.

Aku merindukan perhatiannya. Aku menangis untuk nya. Aku bersedih dan berduka untuknya. Dia lebih baik dari cinta manapun yang pernah aku kenal. Mungkin memang lebih baik aku hidup tanpa cinta. Aku memang tidak beruntung dalam hal percintaan.