Hari jumat yang lalu, tepatnya tanggal 14 April 2017, aku dan mama pergi ke lempasing untuk mencari ikan. Suasana disana cukup ramai. Lempasing terkenal dengan julukan Pasar Ikan Termurah dan Tersegar, karena memang ikan-ikannya di ambil langsung dari pantai. Aku melihat beberapa perahu nelayan di ikat menggunakan tali di pinggir pantai.  Tiba-tiba aku jadi ingat kisah Petrus seorang nelayan ikan dalam kitab suci orang nasrani.

Akhirnya setelah lelah keliling, aku dan mama memutuskan untuk pulang ke rumah. Sesampai di rumah, kami dikejutkan dengan beberapa orang tamu dari Marga Panggabean Lumban Siagian.  Mereka semua duduk di teras, mungkin ada sekitar 8 orang yang datang. Mereka datang untuk membahas seputar pernikahan adik bungsuku di Jogja.

Entah apa hanya perasaanku yang sedang sensitif, aku seperti merasa mereka memandangku dari atas kepala hingga ujung kaki.  Aku tidak tau apa yang ada dalam pikiran mereka, aku tidak berani me’reka-reka. Hahaha… dalam hati aku hanya bisa tertawa sedih.  Ternyata seperti ini rasanya di lengkahi nikah oleh adik. Kenapa aku merasa mereka seperti memandangku dengan cara pandang yang aneh?  Memang apa salahnya kalau dilengkahi nikah?

Awalnya memang aku yang memaksa adikku untuk menikah.  Aku melihat adik ku pacaran sudah hampir 10 tahun. Dan ketika aku mengikuti ibadah sore, aku tau Tuhan berbicara dengan jelas dalam hatiku. Bahwa aku harus merelakan adikku menikah duluan.  Setelah pulang dari ibadah, aku langsung telepon adikku itu dan mengatakan kapan mereka menikah? Masih ingat dengan jelas bagaimana suara adikku terdengar kaget ketika aku menanyakan hal itu. Dia mengaku belum siap. Lalu aku bilang, siap tidak siap harus menikah. Sudah hampir 10 tahun mereka pacaran. Bahkan aku bilang, tentang dana nanti di bantu.  Setelah itu, malam nya aku langsung bicara dengan mama, dan mengatakan bahwa adikku itu harus menikah.

Singkat cerita, akhirnya Awal Mei nanti mereka melangsungkan pernikahan. Tapi aku tidak menyangka bahwa reaksi para orangtua batak bisa seperti itu terhadapku. Mereka justru bertanya-tanya tentang nasibku.  Memangnya ada apa dengan nasibku? Kenapa aku jadi merasa dikucilkan begini? Apa memang semua kakak di dunia ini mengalami apa yang aku alami? Memang usiaku sekarang sudah 35 tahun. Lalu kenapa dengan usia 35 tahun??? Ada perasaan kesal, marah, kecewa… Padahal awalnya aku lah yang membuka pembicaraan tentang pernikahan adikku itu, aku yang membujuk mama untuk menerima calon istri adikku itu, karena memang calon adik iparku itu berasal dari suku Jawa. Aku bilang kalau suku bukan masalah, yang penting mereka hidup rukun dan bahagia.

Semakin ke sini, aku merasa justru sepertinya keluargaku sendiri tidak melibatkanku tentang pernikahan adikku itu. Mereka seolah takut aku merasa sedih jika membahas pernikahan adikku itu. Mereka lupa, kalau aku lah awalnya yang mendesak agar pernikahan itu cepat terjadi. Aku merasa diabaikan. Aku merasa seperti oranglain yang hanya sekedar di undang datang ke pesta.  Ada perkumpulan / pertemuan / progress tentang acara pernikahan ini, aku tidak tau sama sekali.   Tiba-tiba saja, ketika aku telp adikku untuk pemesanan tiket, ternyata saat itu abangku yang kedua sedang ada di jogja, dan mereka disana sedang kumpul2 semua saudara untuk membahas pernikahan adikku itu.  Kalau aku tidak telpon, aku tidak akan tau. Aku merasa seperti oranglain, dimana mereka hanya sekedar mengundangku utk datang di hari H, setelah itu pulang.  Apa salahku sehingga aku harus diperlakukan begini? Kalau aku belum menikah, menurut mereka itu salah siapa? Siapa yang membuat aku belum menikah sampai sekarang??? Ketika ada seseorang yang sungguh-sungguh kepadaku, mama langsung menolak dengan alasan ini dan itu, dimana pada akhirnya aku tau alasan mama hanyalah, “aku tidak boleh keluar dari Lampung karena aku harus mengurus abangku yang difabilitas itu! Seandainya saja Bapak masih hidup. Aku sangat merindukannya. (Mulai kumat deh melankolisnya…. hadehhhhh…)

Perasaanku benar-benar campur aduk. Sedih, kecewa, marah, dan diabaikan. Aku berharap ada seseorang yang berkata kepadaku seperti ini…  “Tenang aja Li, semua akan baik-baik saja. Tidak apa-apa, kamu pasti bisa melaluinya. Kamu tidak sendiri karena ada Aku di sini menemanimu.”

Iklan