Posts tagged ‘emosi’

Mungkinkah Abangku Yang Penyandang Difabilitas Itu Sembuh?

Memiliki seorang saudara penyandang difabilitas benar-benar merupakan tantangan tersendiri.  Jujur, aku akui kalau seringkali aku merasa lelah dengan semua ini. Akhir-akhir ini perasaanku agak tidak menentu. Rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya.

Di rumah, sering aku kehilangan kendali dan secara tidak sadar, mungkin sikapku menyakiti hati abangku yang penyandang difabilitas itu. Entah dia mengerti atau tidak, entah dia sakit hati atau tidak, aku tidak tau. Tapi, setiap aku berlaku agak diluar kendali, rasa penyesalan dalam hatiku begitu dalam seolah-olah menampar wajahku bertubi-tubi.

Aku sedih, frustasi, hampir putus asa. Sampai kapan abangku seperti itu? Kasihan sekali melihat abangku itu. Andai aku tau apa yang ada di dalam hatinya, apa keinginannya, dan bagaimana menyenangkan hatinya. Entahlah…

Agustus nanti usianya menjadi 40 tahun. Namun sikap, prilaku, tindakannya tidak seperti seorang pria dewasa berusia 40 tahun.  Dia seperti anak-anak. Cara makannya seperti anak-anak. Dia masih belum bisa memilih bajunya sendiri untuk dia pakai. Kadang dia masih merasa takut untuk tidur sendirian. Caranya bicara, bagaimana dia menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya, semua seperti seorang bocah berusia 10 tahun.

Jujur, aku sedih melihat dia seperti itu. Kadang aku pernah berpikir, andai aku tidak mempunya seorang abang yang seperti itu, mungkin saat ini aku sudah menikah dan memiliki beberapa orang anak. Mungkin…

Satu hal yang paling membuatku merasa frustasi adalah “sepertinya” tidak ada dari saudara-saudaraku yang lainnya yang peduli dengan abang sulung kami itu. Padahal Abangku itu punya 3 orang adik.  Kemana yang 2 orang adik lainnya lagi? Apa bagi mereka mengirim uang saja cukup?

Ketika mereka datang berkunjung ke rumah, apakah ada inisiatif dari mereka untuk bicara dengan abang sulungku itu? Apakah mereka ada inisiatif mengajak abang sulungku makan bersama? Atau mungkin mengajak nonton tv bersama? Atau melakukan aktifitas apapun bersama? Apakah mereka pernah mengajak abangku itu keluar hanya untuk keliling-keliling saja? Adakah??? Tidak ada! Aku marah, sangat marah. Mereka hanya mau mengajak abangku keluar kalau aku atau mama ikut dengan mereka. Menyedihkan sekali.

Mereka mungkin sudah bekerja, penghasilan mereka besar, namun apakah mereka berhak memperlakukan abang kami seperti itu? Mereka datang berkunjung ke rumah, yang mereka lakukan hanyalah berdiam di kamar masing-masing, sibuk dengan HP mereka masing-masing, sibuk dengan dunia mereka dan kesenangan mereka sendiri. Mereka hanya berbincang-bincang, tanpa menghiraukan abang sulungku yang sibuk mundar mandir tidak jelas.  Adakah inisiatif dari mereka untuk merangkul abang sulungku itu? Setiap aku bertanya, alasan mereka adalah karena mereka lelaki dan aku wanita sehingga sifat peduli mereka tidak seperti aku. Omong Kosong!  Itu semua hanya alasan saja!

Ketika mereka datang ke lampung, apakah mereka pernah ada inisiatif untuk menjumpai psikiater abangku dan bertanya secara pribadi mengenai perkembangan abangku itu? Tidak ada! Omongan mereka besar, seolah-olah merekalah orang yang paling peduli dengan abang sulungku itu. Mereka bilang, mereka sering memikirkan abang sulungku itu sekalipun mereka tinggal di luar kota. Omong Kosong! Untuk apa mereka memikirkan, tapi ketika mereka ada di lampung, sikap mereka cuek dan acuh tak acuh. Hahhhhh… memikirkan apanya?!

Kenapa? Kenapa? Kenapa????

Kenapa aku merasa semua beban harus dilimpahkan kepadaku? Kenapa mama hanya menuntutku untuk begini dan begitu, harus begini dan begitu, dan kenapa mama tidak pernah menuntut hal yang sama kepada kedua saudara lelakiku yang lainnya itu?

Aku marah dengan ketidakpedulian mereka semua. Aku takut, suatu saat aku akan meledakan semua sakit hati dan kecewaku ini, dan akhirnya semua justru menjadi berantakan.

Haruskah aku mengalah terus sampai akhir hayatku? Apakah aku tidak berhak untuk bahagia? Aku seorang wanita yang sudah berusia 35 tahun. Aku ingin menikah seperti teman-temanku yang lainnya. Jika bukan karena Tuhan, mungkin aku sudah lama menyerah dengan kehidupan ini. Aku hanya ingin abang sulungku itu sembuh, sehingga tidak ada lagi orang-orang yang menganggapnya rendah, dan adik-adiknya bisa menghormatinya sebagai seorang abang. Seperti yang seharusnya.

Jakarta Oh Jakarta

Hampir sebulan di Jakarta, fiuhhhh dari awal sampai sekarang perasaan semuanya serba berat.

Ada begitu banyak tekanan dan hal-hal yang buat stress.  Yah mau gimana lagi… semua harus di jalani kan?

Entahlah, makin ke sini semua makin berat. Rasanya ingin pindah kerja, tapi mau kerja dimana coba? Bahkan pengetahuanku tentang komputer, jaringan dan bahasa pemrograman pun tidak pernah terpakai lagi. Bisa-bisa ilmuku mati begitu saja karena tidak pernah di asah.

Mau melanjutkan mengembangkan SAP pun rasanya tak punya waktu.

Kemarin adalah hari terberatku. Semua orang hanya tau menuntut, marah, bersikap dingin, memarahi, dan menghakimi. Rasanya kepala mau meledak. Emosi juga tidak terkendali. Kalau sudah begini, yang aku inginkan hanyalah kesendirian.  Aku butuh ruang waktu untuk diriku sendiri.

Pagi ini, masih terasa rasa lelah yang kemarin. Lucu juga yah, sekarang sudah jam 8 pagi tapi aku masih berada di kos.  Padahal aku siap-siap berangkat kerja sudah dari tadi jam 6 subuh. Entahlah, kaki ini rasanya berat sekali melangkah.

Sanggupkah aku melewati semua ini? Atau kah aku harus kembali ke kota asalku?

Pekerjaan kantor yang bertubi-tubi, tidak ada waktu utk bisa santai walau hanya sejenak. Makan siang pun cepat-cepat (mungkin hanya 10 menit), karena semakin lama aku bergerak nanti bisa semakin malam aku pulang.  Belum lagi harus menghadapi omelan dari customer, di tambah lagi tentang tagihan-tagihan dealer yang sudah Jatuh Tempo. Harus analisa PO, request faktur pajak, request barang ke logistik. Harus koordinasi sana dan sini… buat laporan ini dan itu…

Saat sedang mengerjakan PO, tiba-tiba datang telpon dari customer tentang komplain ini dan itu, belum selesai yang satu (disaat yang bersamaan) datang email dari atasan tentang ini dan itu, laporan ini dan itu.  Tangan baru mau bergerak mengerjakan invoice tiba-tiba bagian logistik telepon lagi karena masalah ini dan itu…  Bagaimana mungkin aku bisa mengerjakan 5 pekerjaan dalam waktu yang bersamaan???? Andai tubuh dan pikiranku bisa di bagi 5.  Semua menuntut harus segera selesai.

Saat tidak selesai, semua orang marah… Yang mereka tau hanyalah marah, menghakimi, menuntut…

Saat posisi dalam keadaan tertekan, datang lagi sms dari keluarg a tentang ini dan itu, menghakimiku dan menganggapku begini dan begitu… Tidak ada seorang pun yang bisa memberikan masukan, support, dukungan.  Aku merasa sendirian menanggung semuanya.

Dari pagi jam stengah 5 subuh hingga jam stengah 11 malam, aku harus terus bergumul dengan perasaanku sndiri. Rasa lelah yang makin hari makin menumpuk. Pagi-pagi harus antri nunggu bis. Lari-lari mengejar bis… Bukan hal mudah kalau harus menaiki bis yang sedang berjalan.  Dempetan sana dan sini, berdesak-desakan. Berdiri selama 1 jam di bis, terkantuk-kantuk… Turun dari bis pun harus jalan kaki dulu 5 menitan, sampai di kantor sudah langsung di sibukan dengan berbagai macam rutinitas kantor yang melelahkan.  Malam-malam pulang pun masih harus nunggu bis… Kadang bisa 1 jam berdiri hanya untuk nunggu bis yang lewat. Itu pun harus berdiri lagi… kaki rasanya kram, capek, lelah, penat…

Sampai di kos… aku masih harus beres-beres. Dan entah mengapa kasur anginku harus bocor, sehingga tiap beberapa jam itu kasur harus di pompa.  Tapi sudah seminggu ini aku tidak pompa kasur karena malas. Dan akhirnya aku tidur di lantai.  Awal-awal tidur di lantai, badan rasanya sakit semua. Hahaha… kadang aku ketawa sendiri aja… lucu juga sih… kehidupanku di kota asal kayaknya gak parah-parah amet kayak gini.  Pekerjaanku nyaman, orang-orangnya lumayan enak (walau ada beberapa yang menyebalkan), tempat tidurku empuk.  Makananku teratur… Aku bisa istirahat secukupnya.

Di Jakarta ini, kehidupanku langsung berubah 180 derajad.  Mungkin kalau perubahan ini aku alami setahap demi setahap, mungkin aku tidak begitu se shock sekarang ini. Hahaha… tanpa ada aba-aba, semua langsung berubah drastis.  Siapkah aku dengan perubahan ini? Mampukah aku menjalani semua ini?

Hal positif yang aku dapatkan di sini adalah sekarang aku sudah mulai memasak makanan sendiri.  Walau awalnya mentalku harus di uji lagi, aku harus mengalami rasa malu karena membawa masakanku yang tidak seberapa ini… tapi sekarang aku sudah mulai terbiasa. (sebenarnya kadang aku masih merasa risih dan malu, tapi perasaan itu selalu aku sangkal).

Yah begitulah… di sini aku benar-benar di bentuk dan di tempa habis-habisan.  Mentalku, fisikku, semangatku, kerajinanku, semuanya di bentuk. Dan yang paling menyedihkan adalah, saat semua orang seperti tidak mengerti sama sekali.  Itu membuat aku merasa seorang diri di dunia ini.

Di saat seperti ini, aku merindukan seseorang yang dulu sangat dekat denganku. Seseorang yang dulu selalu menjadi tempat curahan hatiku. Entah itu tentang cowok, pekerjaan, teman-teman… dan sudah 6 tahun aku tidak bertemu dengannya. Sebenarnya aku tau bahwa selamanya aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Karena bapak sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Yah, inilah sedikit curhatanku selama di Jakarta.  Satu hal yang aku yakin, ada hal baik yang sedang menantiku di sini. Tuhan pasti punya rencana. Walau seringkali aku merasa tidak sanggup, tapi aku tau rancangan Tuhan tidak pernah salah. Karena Tuhan tidak mungkin mengijinkan pencobaan melebihi kekuatan umatNya. Matematika Tuhan itu sempurna, analisaNya selalu tepat. Aku percaya kepada Tuhan. Hanya Dia satu-satunya pengharapanku hingga aku bisa bertahan di sini, sampai detik ini.

Tak terasa sudah jam 9, aku harus segera berangkat kerja. Tadi aku sudah sms orang kantor kalau bakal telat datang ke kantor. Hari ini harus semangat…. Klo kata pacarku, Ganbbate!!! 😉

Untukmu Kekasih

Mentariku…

Matahariku…

Sinari aku dengan sinarmu

Selimuti aku dengan kehangatanmu

 

Gersangnya hati

Membutuhkan Cintamu

Hampanya jiwa

Membutuhkan Kehadiranmu

 

Jangan sakiti aku

Jangan lukai aku

Sayangi aku

Dengan sepenuh hatimu

 

Sampai saatnya tiba

Kan kuberikan segalanya

Hanya untukmu

Belahan Jiwaku

 

 

By : Lia I.P

Date : 19  Nov  20110

Di persembahkan untuk : Kekasih hatiku

FAUZI PRESIDENT HAMIKU

SUPPORT RIZKY FAUZI SUCCESS with SHARE IT | Setelah DIBACA timbal baliknya harus di-SHARE soalnya gak gratis...

Ardiantoyugo

Night Riding Without Seeing

Memorabilia

Catatan anak rantau dalam menggapai Impian, Cita-cita, dan Cinta

Timbangan Digital Timbangan Digital

DUNIA TIMBANGAN : 081280780615 / 081291999252 / 08788379511, Timbangan Digital,Timbangan Duduk Digital,Timbangan Duduk,Timbangan Mekanik,Timbangan Salter,Timbangan Duduk Manual,Timbangan Manual,Harga Timbangan,Timbangan Jarum,Timbangan Gantung,Timbangan Analytical,Timbangan Lantai,Timbangan Emas,Timbangan Sapi,Timbangan Gramasi,Timbangan Digital Portable,Timbangan Digital Gantung,Timbangan Cahaya Adil,Harga Timbangan Digital,Timbangan Digital Nagata,Timbangan Nagata,Timbangan Digital Matrix,Timbangan Adam,Timbangan Duduk Jarum,Batu Timbangan,Timbangan Water proof,Timbangan Gantung Jarum,Timbangan Counting,Timbangan Buah,Timbangan Lab,Timbangan Analitik,Timbangan Allegra,Harga Timbangan Duduk,Harga Timbangan Mekanik,Batu Timbangan,Timbangan Chq,Timbangan Water Proof,Timbangan Manual,Timbangan Laundry,Timbangan Quattro,Timbangan ,Timbangan Barang,Jual Timbangan,Timbangan Gantung Digital,Timbangan Gantung,Harga Timbangan,Harga Timbangan Analitik,Harga Timbangan Buah Digital,Harga Timbangan Gantung Manual,Timbangan Gantung,Harga Timbangan Duduk,Harga Timbangan Duduk Digital,Timbangan Barang,Timbangan Gantung Manual,Timbangan,Harga Timbangan,Jual Timbangan Digital

Rizqi Fahma on Wordpress

Think Something, Write Something, Do Something

Agung Pramudyanto

Penulis (sosial politik budaya)

Tech News Blog

Tech news & Rumor

eenendangsarielmuhyiblog

من جدّ وجد

lyzaulmilfa

semoga bermanfaat bagi semua

Catatan si 123154

Aku bukan orang yang hebat, tapi aku mau belajar dari orang hebat; aku orang biasa, tapi aku mau menjadi orang yang luar biasa; dan aku bukanlah orang yang istimewa, tapi aku mau berusaha menjadi yang teristimewa^.^)

dwi sakethi

#inyong-mikir-lo-ya

my simple little things

Mari Berpacu Dalam Menulis

Pakelir3

Generasi Pencinta Seni

dytautami

sekedar cerita

bcrita.com

Bercerita Mengenai Informasi dan Inspirasi Terkini

Beaded jewelry

beaded jewelry

Impossible

Selamat Datang , dan Terimakasih Telah Berkunjung

Muslim El Yamany

Menulis untuk Inspirasi. Berkarya Tiada Henti

Musim Semi

berharap hangat itu sampai ke hatimu begitu juga cintaku

Another Page, Another Focus (!)

Karena kapasitas otak kita tidak bisa mengingat segalanya, maka kutipan-kutipan novel itu saya abadikan di sini. :)

To my dearest Leppy.

trees and sky; me in becoming woman.

Afreya Leisa

Coretan Kisah Anak Manusia

capung2

Menulis Untuk Diingat

OOAworld

Movie, Photos, Writing, Stories, Videos, Animation, Drawings, Art and Travel

pensamiento amplio

berfikir luas

Cakrawala

Penataan Ruang, Kepariwisataan, Bencana, Agama, Beladiri.

Sekedar curhat

Tulisan curahan hati

hilangpermataku.wordpress.com

A great WordPress.com site

Kata-Kata Dicta

Kepingan Kata yang Mengharapkan Sebentuk Arti Bagimu

refriska

fabulous life

re-mark-a-blog

A Remarkable Blog by Justisia Nita

Istanaku Harapanku

[ goresan untuk mengejar mimpi ]

duniakoe2

A great WordPress.com site

annaukhty

4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

BukuHarian

Mari Berpacu Dalam Menulis

B. S. Totoraharjo

Orang Bodoh Yang Tak Kunjung Pandai

ada cerita apa hari ini?

komunitas emak-emak nge-sign kiri belok kanan

SanG BaYAnG

Ungkapan Jiwa Dalam Kata Yang Berbeda

Life For Share

Hidup lebih berarti dengan berbagi

sepotongkisah

"Mungkin mustahil langit dan bumi bersatu, karena jarak yang beribu-ribu mil terbentang raya. Tapi tampak langit mencium bumi di ujung cakrawala, Menempa arti selalu 'kan ada harapan"

lagilagi81.wordpress.com/

KEBAHAGIAAN HIDUP BUKAN SEKEDAR DARI AGAMA

Pursuing My Dreams

Indonesian who loves gardening, live in Germany

Fiazku

Kecerdasan Manusia Bodoh

This is not about me

Semua tentang Kasih

%d blogger menyukai ini: