Posts tagged ‘psikolog’

Cinta Dan Rumah Tangga (2)

Berpikir, merenung tentang arti dari sebuah pernikahan… Sebagian orang ada yang takut untuk menikah karena takut menyesal. Mungkin ketakutan itu datang karena mendengar banyak cerita tentang keretakan rumah tangga orang lain, mungkin juga ketakutan itu datang karena trauma masa kecil. Namun demikian, dari sekian banyak penduduk dewasa yang ada di bumi ini, saya percaya lebih dari 80% mereka semua menikah.
Pada topik Cinta dan Rumah Tangga Bagian 1, saya lebih banyak membahas tentang topik seputar keretakan rumah tangga. Si istri yang tidak taat kepada suami, si suami yang tidak menghormati istri, akibat dari campur tangan pihak ketiga baik itu keluarga besar/selingkuhan. Di situ banyak di kupas mengenai berbagai macam keretakan yang sering terjadi. Namun di akhir tulisan, apapun penyebab keretakan rumah tangga, yang menjadi korban selalu 3 pihak, yaitu suami, istri, dan anak. Mereka bertiga yang akan menjadi korban, bukan orang lain.
Di sini mungkin saya akan sharing mengenai sedikit pengalaman rumah tangga orang tua saya.
Ketika saya masih kecil, saya menyaksikan banyak pengalaman buruk mengenai rumah tangga orangtua saya sendiri. Almarhum bapak saya yang suka memukul mama, tidak memenuhi kewajibannya dalam menafkahi istri dan anaknya, dan terlalu fokus mengurusi “keluarganya” bahkan sempat terdengar kabar selingkuh. Hal itu menimbulkan luka di hati saya.
Kemudian mama saya seorang yang memiliki jiwa usaha. Kadang dia sering pergi keluar kota, dan cukup jarang ada di rumah. Hal itu juga mendatangkan luka di hati saya. Saya merasa orangtua saya tidak mengasihi saya sama sekali.
Tidak jarang saya melihat mata mama saya lebam akibat pukulan bapak, dan tidak jarang saya mendengar suara teriakan, makian, sahut menyahut dengan nada marah dari bapak dan mama.
Dulu saya berpikir saya begitu membenci bapak yang suka main kasar ke mama, dan saya juga membenci mama yang jarang ada di samping saya. Ada banyak kebencian yang menguasai hati saya.
Saya juga berpikir bahwa mama saya adalah orang yang bodoh. Mengapa mama tidak pernah mau bercerai dengan bapak sekalipun mama sering dipukul dan di aniaya? Apa sebabnya? Saya tidak pernah habis pikir mengenai hal itu.
Ketika kuliah saya mengikuti konseling rohani dan sedikit demi sedikit saya mulai memutuskan untuk mengampuni kedua orangtua saya. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Rasa kecewa, dendam, amarah sering sekali timbul, dan itu menjadikan saya pribadi yang keras, tidak percaya cinta, egois, dan pemberontak.
Setiap hari saya selalu bertanya dalam hati, mengapa mama tidak mau bercerai?
Kisah saya ini adalah kisah masa lalu… Saya menceritakannya hanya untuk pembelajaran kepada para orangtua / kepada para suami-istri yang mungkin juga mengalami pergumulan dalam rumah tangganya.
Setahun sebelum bapak saya meninggal, bapak saya berubah drastis menjadi pribadi yang sangat hebat. Ayah yang baik, suami yang melindungi istri, dan saya bersyukur untuk 1 tahun terakhir sebelum kepergiannya. 1 Tahun terindah yang tidak akan pernah saya lupakan.
Namun walau saya sudah mengampuni bapak dan mama, ternyata pengalaman masa lalu saya yang pahit itu memberikan dampak yang tidak sehat untuk pertumbuhan kedewasaan saya.
Saya selalu takut untuk di ajak menikah. Trauma-trauma masa lalu selalu menghantui saya, dan lagi-lagi saya bertanya dalam hati… mengapa waktu itu mama tidak mau bercerai dengan bapak? Saya selalu bilang ke mama, kalau nanti suami saya main tangan ke saya, maka saya akan main kaki ke dia. Kalau dia kasar dan menganiaya saya, maka saya akan bercerai dengan dia. Kalau begini maka saya akan begitu… Di pikiran saya ada begitu banyak kata “kalau… maka saya…” mengenai masa depan pernikahan saya.
Ya, saya begitu trauma dan takut.
Saya selalu mencari-cari alasan kalau ada yang mengajak menikah. Saya selalu merasa tidak siap untuk menikah. Saya takut tidak bahagia. Itu dampak dari ketidakharmonisan orangtua saya.
Saya bukan seorang yang mudah menangis, dan menunjukkan sisi lemah saya. Saya seorang yang mandiri dan jarang meminta pertolongan kepada orang lain. Bahkan kepada saudara-saudara kandung saya pun saya jarang meminta bantuan. Rasa gengsi saya membuat saya hidup di dalam topeng. Topeng sok kuat, topeng sok tegar, topeng sok tidak butuh orang lain, dan banyak topeng-topeng yang lainnya. Saya takut ketika orang melihat sisi lemah saya, orang akan menginjak-injak saya dan meremehkan saya sebagai wanita yang cengeng dan tidak dapat di andalkan. Saya tidak mau di injak-injak seperti mama yang di injak-injak oleh bapak.
Topeng-topeng itu selalu saya kenakan, bahkan ketika saya memiliki seorang pacar, saya selalu mengenakan topeng itu. Saya tidak pernah memberi kesempatan kepada kekasih saya untuk mengetahui apa isi hati saya. Ketika saya sedih, saya diam. Ketika saya marah, saya diam. Saya tidak pernah terbuka mengenai banyak hal. Sejak kecil tidak pernah ada yang mau mendengarkan saya sehingga ketika saya dewasa, saya merasa canggung untuk terbuka. Dan hal itu sangat menyiksa saya. Ketika saya tidak tahan berdiam diri, maka emosi saya bisa meledak-ledak dan mengungkit-ungkit masa lalu. Dan ketika saya merasa pasangan saya cuek serta menyakiti hati saya, maka saya bisa lebih cuek dan lebih menyakiti perasaannya. Rasa tidak adil yang saya alami ketika kecil itu saya lampiaskan ketika saya dewasa. Dan hal itu bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Saya memiliki hubungan yang tidak sehat. Saya menuntut “kesempurnaan kasih sayang” dari pasangan saya, dan ketika saya merasa kasih sayangnya tidak seperti yang saya harapkan, saya menjadi frustasi, kecewa, dan marah.
Butuh lelaki berjiwa besar yang bisa menerima kondisi mental saya yang seperti itu. Saya tau, itu semua karena luka hati saya ketika kecil belum tuntas. Dampak dari ketidakharmonisan orangtua membuat saya menjadi pribadi yang keras. Saya berjuang melawan luka hati saya, saya banyak mencari referensi dan cerita-cerita seputar kehidupan rumah tangga, saya mencari tau tentang bagaimana menyenangkan pasangan, apa yang disukai pria dan wanita, dan saya berusaha menjadi baik. Semakin saya berusaha menjadi baik, justru semakin buruk yang saya lakukan.

Sampai akhirnya saya menonton sebuah acara film di televisi, menceritakan tentang keluarga yang tidak harmonis. Dan seorang tokoh agama di dalam cerita itu berkata, banyak yang tidak mengerti makna dari arti kata ” apa yang telah di persatukan oleh Tuhan tidak dapat di ceraikan oleh manusia, kecuali oleh kematian”.
Tiba-tiba saya kembali teringat masa kecil saya dulu. Yah… saya memang belum memahami makna dari arti kata tersebut. Saya sendiri punya prinsip bahwa menikah hanya sekali seumur hidup, namun saya masih belum mengerti makna dari prinsip saya tersebut. Perinsip “yang tidak saya mengerti makna nya itu“, membuat saya menjadi terlalu berhati-hati dalam memilih pasangan hidup.
Seperti ada tabir yang terbuka, saya seperti melihat cara pandang yang baru. Memang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, namun sekarang saya bisa memahami mengapa mama tidak mau bercerai dengan bapak waktu itu.
Mengapa saya membahas masa lalu saya ini? Karena saya sering melihat statistik blog saya banyak yang mencari kata kunci seputar permasalahan keluarga.
Dari kisah saya, bisa disimpulkan beberapa faktor.
Pertama, faktor psikologis anak. Ketika pasangan pasutri bertengkar, ribut, saling adu mulut, bahkan mungkin main tangan, ingatlah bahwa selalu ada anak-anak yang akan menjadi korban. Dan dampak itu bisa berlanjut terus hingga anak ini dewasa (apabila tidak di tangani dengan benar). Bahkan sekalipun pasangan orangtua sudah harmonis lagi, namun trauma dari pertengkaran itu harus ditangani dengan serius.
Kedua, faktor dari psikologis pasangan. Mungkin ada di antara anda yang merasa suami/istri saya sangat keras kepala. Suami/istri saya lebih senang bermain dengan kawan2nya, lebih egois, tidak jujur, bahkan mungkin kasusnya sama seperti yang pernah saya lakukan di atas… meledak-ledak dan mengungkit-ungkit, seperti menuntut kesempurnaan “Kasih sayang” dari pasangannya. Saran saya, coba selidiki seperti apa masa kecil pasangan anda. Anda perlu berjiwa besar dan berikan kasih sayang yang tulus, berbicara dari hati ke hati agar pasangan anda bisa berubah. Ingat, butuh jiwa yang besar untuk bisa melakukan semua itu. Harus ada pihak yang mau mengalah, bahkan sekalipun anda tidak bersalah… kadang pihak yang tidak bersalah pun harus mau berkorban dan mau disalahkan agar hubungan bisa harmonis kembali.
Terakhir, faktor dari anda sendiri sebagai suami/istri. Jika anda merasa dan menyadari bahwa memang selama ini anda egois terhadap pasangan anda, anda sudah tidak jujur dan bahkan melukai pasangan anda. Ini saatnya untuk anda berhenti bersikap seperti itu dan meminta maaf serta berubah. Ingatlah, ketika anda sebagai suami/istri melukai pasangan anda, bukan hanya pasangan anda saja yang terluka, tetapi keturunan anda, darah daging anda sendiri bisa terkena dampak dari perbuatan anda.
Pernikahan adalah sesuatu yang harus di jaga. Kalau orang pacaran mungkin bisa putus, tetapi pasangan yang sudah menikah dan bahkan sudah mempunyai anak, hubungan itu harus selalu dijaga dengan hati-hati. Bagaimana untuk pasangan yang belum mempunyai keturunan? Tetaplah jaga pernikahan anda dan jangan menyerah dengan keadaan. Karena apa yang telah dipersatukan dihadapan Tuhan, tidak dapat dipisahkan oleh manusia, kecuali oleh kematian.
Itu sebabnya untuk umat muslim, akad nikah harus dipimpin oleh penghulu, bahkan rata-rata dilakukan di dalam mesjid (kecuali wanita sedang datang bulan maka akad nikah tidak bisa dilaksanakan di mesjid). Karena melalui akad nikah, maka hubungan antara dua insan yang saling bersepakat untuk berumah tangga diresmikan di hadapan manusia dan Tuhan (sumber http://id.wikibooks.org/wiki/Tahu_Sama_Tahu/Menikah/Akad_nikah)
Dan untuk umat kristiani ada yang namanya Pemberkatan Nikah. Itu pun di pimpin oleh pastur/pendeta dan dilaksanakan di gereja. Untuk umat Hindu dan Budha pun sama saja… ada acara-acara ritual keagamaan yang harus mereka jalankan. Karena pernikahan itu bersifat kudus dihadapan Tuhan.
Ingatlah, tetap jaga pernikahan anda semaksimal mungkin. Keputusan yang anda buat hari ini, akan menentukan seperti apa anda di tahun-tahun yang akan datang. Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan, apabila badai menerpa rumahtangga anda… jangan lupakan Tuhan. Selalu ada Tuhan yang pasti akan memberi kekuatan dan penghiburan. Rencana Tuhan selalu indah tepat pada waktuNya.

Iklan

Cinta dan Rumah Tangga (1)

JREEEENG… Dari kemarin baca-baca tentang serba serbi pernikahan, rata-rata 85% semua menyatakan rasa penyesalan karena terlalu cepat menikah dan merasa salah memilih pasangan.

Seorang ibu mengatakan “Andai waktu bisa diputar kembali, aku mengalami banyak kehilangan masa mudaku karena menikah muda. Kesenangan-kesenangan yang seharusnya bisa aku nikmati tidak dapat aku sentuh karena aku harus mengurus anak-anak, di tambah lagi aku memiliki suami yang egois dan cuek. Terlalu asik dengan teman-temannya tanpa memikirkan kami istri dan anak-anaknya.”

Sementara ibu yang lain berkata, “Dia berbeda ketika berpacaran dulu, sekarang dia menunjukkan sifat aslinya. Kami sering bertengkar dan aku merasa tidak tahan lagi. Kami seperti minyak dan air, tidak dapat bersatu. Sepertinya ada sesuatu dalam dirinya yang tidak dapat aku sentuh.”

Dan yang lain berkata “Selama pacaran dia memang sudah menunjukkan sikap cuek. Kadang dia begitu sangat romantis, tapi kadang dia begitu sangat tidak peduli dan acuh. Aku kira pernikahan bisa mengubah segalanya. Mengubah sikap cueknya. Namun ternyata setelah menikah, dia justru semakin cuek dan akan bersikap romantis hanya bila dia memerlukanku untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Berulang kali terbersit rasa ingin meninggalkannya, namun aku masih memikirkan perasaan anakku. Jika dia terus seperti ini, mungkin aku akan pergi meninggalkannya.”

Di forum yang lain, ada seorang ibu yang memiliki 1 orang anak bercerita bahwa suaminya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Sibuk dengan teman-temannya. Dan bila hari libur tiba, suaminya akan semakin sibuk dengan handphone-nya. Dia merasa tidak diperhatikan dan tidak dipedulikan oleh suaminya. Kalau di ajak jalan, suaminya selalu menolak. Tetapi kalau di ajak jalan oleh teman-temannya, tanpa pikir panjang sang suami langsung pergi. Tidak ada keharmonisan di keluarga.

Berbagai cara sudah dia lakukan. Dari berbicara lembut, merayu, menggoda, berhias, sampai akhirnya dia berkata kasar… suaminya tidak berubah. Kalaupun berubah, paling perubahannya hanya beberapa minggu saja. Kemudian dia bertemu dengan pria lain.  Pria yang bisa memberi kenyamanan dan perhatian yang dia harapkan. Sebut saja nama Pria itu adalah X. Pria itu pun dekat dengan anaknya. Sampai akhirnya anaknya dengan polos berkata kepada ibunya seperti ini, “Mama… mama… aku ingin papa X aja.  Mama cari papa baru aja seperti X. Adek  ga mau punya papa yang sekarang.”

Jreeenggg… apa yang terjadi??? Siapa yang salah dalam posisi ini?
Sang istri atau sang suami?

Of course kita tidak dapat menyimpulkan sesuatu kalau hanya mendengar dari salah satu pihak saja. Mungkin sang suami memiliki kejenuhan yang tidak terucapkan, sehingga bersikap seperti itu. Mungkin juga ada hal yang tidak puas yang dirasakan oleh sang suami kepada istrinya sehingga suami lebih merasa nyaman berada di dekat teman-temannya ketimbang keluarganya. Atau bisa jadi memang tabiat suaminya yang begitu.

Kalau melihat dari sisi cerita si istri, mungkin kita bisa berkata kasihan si istri harus mengalami hal itu. Suaminya tidak perduli dan anaknya sampai meminta papa baru seperti itu. Padahal usia anaknya belum ada 7 tahun, mengapa anak ini bisa berkata seperti itu? Mungkin karena sikap suami yang keterlaluan karena terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Sebut saja egois.

So??? Kembali ke pertanyaan semula… Siapa yang bisa di salahkan dalam hal ini???

Jawabannya tidak ada. Tidak ada satu pihak saja yang bisa di salahkan dalam kasus ini. Karena dari pihak suami maupun istri, masing-masing punya peranan. Suami salah, ya istri juga salah. Kalau suami benar, harusnya istri juga benar dong.  Kok bisa begitu??? Ya iyalah masa ya iya dong… Karena ketika sepasang kekasih mengikat janji setia, sehidup semati di hadapan Tuhan, itu berarti mereka sudah menjadi satu tubuh. Dan dari iman yang aku percayai, mereka bukan lagi menjadi dua di hadapan Tuhan melainkan menjadi satu.

Apakah perceraian merupakan jalan keluar yang terbaik? Daripada berselingkuh, lebih baik bercerai bukan??? Lalu bagaimana dengan psikologis sang anak? Pernahkah para orangtua muda yang memutuskan untuk bercerai memikirkan psikis/kejiwaan sang anak? Please deh, jangan egois…  Bukankah anak itu mengikuti panutan dari orangtuanya?

Kata teman-temanku yang sudah menikah, 97% mereka berkata bahwa kalau sudah menikah, cinta itu menjadi tidak penting lagi, tetapi yang menjadi penting adalah tanggung jawab!

Kebutuhan ekonomi, peranan keluarga besar… mungkin keluarga besar dari pihak si istri atau dari pihak si suami yang ingin ikut campur dalam setiap masalah rumah tangga, atau seorang saudara yang berkata, dia itu adik saya kok jadi istrinya yang ngatur? Dia itu kakak saya, kok jadi suaminya yang ngatur? Seorang saudara kandung merasa punya hak lebih atas saudaranya sehingga merasa sang istri atau sang suami di anggap tidak penting. Karena bagi sebagian orang, saudara sedarah itu jauh lebih penting ketimbang siapapun. Tentu saja hal itu bisa menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Dan akhirnya siapa yang menjadi korban?

Orang bilang, anak yang menjadi korban dalam semua masalah di atas. Menurutku bukan hanya anak… sang suami, istri, dan juga anak…. ketiga pihak ini lah yang menjadi korban atas semua problema rumah tangga yang terjadi. Apakah keluarga besar menjadi korban? Atau saudara kandung yang menjadi korban? Aku rasa keluarga besar tidak bisa dikategorikan korban. Karena dalam mahligai rumah tangga, mereka hanya “orang luar“.

Lalu apakah itu berarti keluarga besar tidak penting? Aku tidak bilang begitu, kalian yang bilang begitu. Keluarga besar itu penting. Tapi bukan berarti demi keluarga besar, tanggung jawab sebagai seorang istri atau seorang suami menjadi terbengkalai.

Seorang suami rela memberikan segala-galanya demi keluarga besarnya, sementara istrinya jarang di beri uang untuk kebutuhan hidup, dengan dalih si istri juga bisa cari uang kok. Sehingga beban menyekolahkan anak dan makanan di rumah, istri harus ikut memikulnya. Bahkan 75% beban kebutuhan ekonomi harus di pikul oleh si istri. Selalu membicarakan kejelekan istrinya di depan orang lain dan di depan keluarga besarnya. Akhirnya tanpa merasa berdosa si suami bilang, saya begini karena kurang perhatian dari istri. Gimana caranya merhatiin suami kalau istri harus kerja cari uang, istri juga harus memasak makanan anak, istri juga yang harus menyuci dan menyetrika, belum lagi urusan kebersihan rumah, dll, dsb… Tentu saja saat malam tiba, sang istri merasa terlalu lelah untuk melayani suami. Wanita itu bukan robot… Robot aja perlu istirahat apalagi wanita!

Bagaimana kalau kasusnya di balik? Sang istri merasa beban tanggung jawab keuangan itu harus di pikul oleh suami. Bukankah pria berkewajiban memenuhi kebutuhan wanita??? Kemudian apa yang di beri suami langsung dilimpahkan ke keluarga besarnya, atau untuk bersenang-senang. Tidak berpikir tabungan untuk masa depan anak, karena di pikirannya tertanam… semua itu tanggung jawab suami kok.  Kalau istrinya punya penghasilan yang jauh lebih besar dari suami, lantas sang suami di anggap remeh dan tidak dihargai. Suami di pandang rendah dan merasa menjadi ratu dalam segala-galanya. Selalu membicarakan kejelekan dan kekurangan suaminya di depan orang lain dan di depan keluarga besarnya.  Ingin dilayani bukannya melayani suami. Atau saat suami baru pulang kerja, tiba-tiba langsung di sambut dengan omelan-omelan tentang kelakuan anak, atau gosip ibu-ibu tetangga. Kalau suami tidak bisa memenuhi keinginannya, istri akan manyun dan ngambek berhari-hari, tidak menghargai perasaan suami. Please deh… Pria itu bukan mesin pencetak uang dan juga bukan robot yang tidak mempunyai perasaan. Sepertinya para wanita harus nonton film transformer… di film itu, robot aja punya perasaan… apalagi lelaki!

Lalu, apakah orang-orang yang mau menikah harus merasa takut? Bagaimana mengantisipasi hal-hal yang tidak di-ingin-kan tersebut? Bagaimana menurut pendapat kalian?

Talk Less Do More

Kenapa semua orang merasa bahwa hidupnya paling merana sedunia yah? Ada banyak orang yang sepertinya menyalahkan ruang dan waktu… meratapi nasib dan akhirnya hanya stak nasi sampai di situ saja. Diam dan tidak berbuat apa-apa.

Aku tidak mau menjadi orang yang seperti itu. Dulu mungkin aku seperti itu… Terlalu lebai… mendramatisir keadaan, merasa diri patut dikasihani dan tidak ada yang peduli dengan perasaan hati. Jiahhhh… Cape ajahhhh…

So what gitu??? Apa dengan meratapi nasib, stress dan merasa tertekan dapat merubah keadaan? The answer is no!  So, apa dong yang bisa kita lakukan kalau sedang mengalami masalah? Udah usaha, pontang panting sampai jungkir balik tapi tetap tidak ada jalan keluar. Ya udah… banyak-banyak aja lah berdoa sambil menunggu jawaban Tuhan sambil mengucap syukur.

Inget, mengucap syukur, bukannya bersungut-sungut dan menyalahkan keadaan. Loh, kok gitu? paling enggak kalau kita sungut-sungut dan marah kita kan bisa sedikit lega karena udah melampiaskan isi hati… Gimana sih ini yang nulis… error… ngomong gampang prakteknya yang susah bossss…

Ntu tuh… yang ngomong kayak gitu tuh udah di bisikin ama malaikat bertanduk tuh… Emang sih ngomong gampang banget… Makanya jadi psikolog, enak… kerjanya tinggal ngomong udah gitu dapet duit lagi…

But, yang aku tau… kalau kita sungut-sungut, itu seperti kita tidak percaya dengan kuasa Tuhan. Mungkin itu juga sebabnya kali yah jawaban Tuhan kayaknya tidak kita terima…

Lagian, semua orang tuh punya kisah nya masiang-masing. Punya kesedihan masing-masing, dan juga punya kebahagiaan masing-masing…. Jadi please deh… Stop! Jangan lebay… Kalau mau sedih ya sedih aja… kalau mau susah ya susah aja… tapi cukup untuk sehari. Kesusahan sehari cukup untuk sehari. Ungkit masa lalu juga percuma… nambah penyakit. Merasa paling banyak berkorban juga percuma… tidak ada gunanya… kalau pengorbanan yang ada harus di ungkit-ungkit, mending tidak usah berkorban sama sekali. Jadi cukup! Stop mengeluh… Jalani aja hidup ini sepositif yang kita bisa.

Talk less do more… terlalu grabak grubuk hasilnya belum tentu maksimal. Malah bisa saja nanti mendatangkan masalah yang baru.

Hhhhh… aku rasa tulisan ini bukan hanya di peruntukkan untuk para pembaca saja, tetapi juga untuk penulis itu sendiri.  Hari ini, aku punya 100 alasan untuk marah, untuk membenci, untuk bersungut-sungut…  Tetapi saat aku berdiam diri di kamar, merenung dan memikirkan tentang hidupku dan DIA yang ESA, aku tau bahwa sesungguhnya aku punya lebih dari sejuta alasan untuk tersenyum dan menjalani hidup dengan positif.

Adikku pernah bilang, semua situasi Tuhan ijinkan terjadi untuk membentuk karakter kita… Yah itu betul… semakin banyak ujian hidup yang kita hadapi, karakter kita akan terbentuk semakin dewasa lagi.

Semoga kita semua dapat melewati semua ujian hidup dengan pikiran positif dan hati yang mengucap syukur. Amiiiinnnn…

Tekanan Hidupkah Penyebabnya?

Akhir-akhir ini aku sering bertanya kepada diri sendiri, kenapa yah seseorang itu bisa mengalami frustasi, bahkan ada yang bisa mencapai taraf gila hingga harus di rawat di RSJ (Rumah Sakit Jiwa).

Tentu pertanyaan ini berkaitan dengan kondisi abangku yang labil itu.

Aku renungkan, dulu waktu kecil, abangku termasuk seorang anak yang ceria, aktif, dan pintar. Tidak pernah terbayangkan bahwa dia akan mengalami hal seperti ini.

Ada yang bilang abang aku itu autis, ada yang bilang abangku itu mungkin pernah kena narkoba, dan ada juga yang bilang tekanan hidup membuat dia tidak mampu menanggungnya sehingga dia menjadi seperti itu.

Autis? Hmmm… dulu aku pernah bekerja di majalah yang isinya membahas khusus tentang autis. Aku pun sering membuka internet tentang autis. Benarkah abangku itu autis? Melihat dari ciri-cirinya, mungkin ya mungkin juga tidak. Aku tidak tau.

Bagaimana kalau narkoba??? Ya itu pun memang harus di selidiki! Dulu abangku pernah kuliah di Jakarta, dan bisa jadi dia kena narkoba waktu di Jakarta. Akhirnya kami ambil inisiatif cek darah sekalian check up kesehatannya. Hasilnya… tidak ditemukan kandungan narkoba atau ekstasi di dalam darahnya. Bahkan HB darahnya cukup tinggi melebihi batas normal. Hal itu menjadi jawaban atas pertanyaan kami selama ini… Kok abangku itu jarang sakit yah? pagi hari demam tinggi, tiba-tiba sore hari udah sehat. Saat kami sekeluarga terserang flu, abangku tidak tertular. Pokoknya abang aku ini jarang sekali sakit deh… Ternyata itu dikarenakan HB nya yg tinggi.

Hal yang ketiga adalah tekanan hidup. Mungkin hal ini bisa menjadi faktor atas kelabilannya.

Kami dilahirkan di keluarga batak. Tentu bagi orang batak, anak lelaki itu adalah yang tertutama. Apalagi anak lelaki tertua, dialah yang membawa nama keluarga.  Sehingga seringkali anak lelaki tertua di tuntut terlalu berlebihan…

Dulu, alm. bapak aku mendidik abangku dengan cukup keras. Kadang aku kasihan melihat bagaimana bapak mendidik abangku ini. Bapak selalu memaksa abangku untuk belajar, belajar, dan belajar… Memang hasilnya terbukti, dia menjadi anak yang pintar dan mendapat peringkat di sekolah.

Sampai akhirnya ketika dia masuk SMP, dia ingin masuk ke SMP negeri. Tapi bapak lebih suka dia sekolah di swasta yang cukup ternama di Lampung… Ada selentingan yang menyatakan bahwa sekolah negeri itu guru2nya jarang masuk dan ilmu belajarnya tidak begitu bagus. Mungkin ya mungkin juga tidak. Tapi itulah pandangan alm.bapak waktu itu.

Akhirnya abangku merasa kecewa. Memang sekolah di swasta X belajarnya cukup diporsir. Ada banyak PR yang harus dikerjakan, tugas-tugas menumpuk… berbeda dengan teman-temanku yang sekolah di negeri. Mereka terlihat santai dan PR yang harus dikerjaan pun tidak begitu banyak.

Kami empat bersaudara dari TK selalu sekolah di sekolah X.

Alangkah terkejutnya aku ketika aku masuk SMA swasta yang lainnya, sebut saja SMA Y, aku bisa dengan mudah mendapat peringkat disana, padahal di sekolah X aku harus berjuang mati-matian untuk bisa rangking tetapi selalu tidak pernah berhasil.

Sejak abangku masuk di SMP yang tidak dia inginkan, dari situ mulai terlihat gejala pemberontakan dari diri abangku ini. Sikapnya mulai kasar dan semaunya. Seringkali bapak memarahi dia, tetapi abangku ini seperti kebal rasa. Dari situ pun nilai-nilainya mulai merosot.

Saat itu aku tidak mengerti tentang psikologi abangku, mengapa abangku ini bisa bersikap brutal, dan menyebalkan. Kami ketiga adiknya saat itu cukup membencinya. Dulu aku dan abangku sering bertengkar. Bahkan tidak jarang aku dan abangku main pukul2an atau tinju2an. Selalu saja ada hal yang dia dapatkan untuk memicu pertengkaran.

Karena kesal dengan perlakuan abangku yang semena-mena, tidak jarang kami adik2nya membandingkan dia dengan orang lain.

Ahhh, andai aku bisa kembali ke masa itu… Aku sangat menyesal dengan sikapku waktu itu.

Akhirnya saat abangku masuk SMA, dia gagal ikut test ke SMA negeri. Dia pun masuk ke SMA swasta yang lainnya. Selama SMA, abangku ini sudah 3 kali pindah sekolah.

Sejak SMA, sikapnya mulai berubah lagi. Tiba-tiba abangku menjadi sangat pemurung dan suka menyendiri di kamar. Hal itu menjadi kesenangan bagi kami adik-adiknya, karena jika dia berkurung di kamar, maka tidak akan ada lagi biang kerok masalah.

Kami tidak paham, bahwa mungkin sikap pemberontakannya berawal dari rasa kecewa dia karena perlakuan orangtua yang seperti membeda-bedakan kami. Abangku diporsir harus begini dan begitu, menjadi contoh dan teladan juga harus menjadi anak yang pintar dan kebanggan orangtua, di tuntut untuk belajar dan belajar…

Andai kami adik-adiknya peka dengan perasaan dan tekanan yang dia rasakan saat itu. Ahhhh aku ingin waktu di putar kembali. Aku benar-benar menyesal.

Saat itu kami masih kecil, tidak tau tentang apa itu tekanan hidup. Yang kami tau hanya sekolah, main, makan, dan bersenang-senang.

Aku jadi berpikir, mungkinkah tekanan hidup yang menjadi penyebabnya?

Tahun 1996/1997 abangku Lulus SMA, abangku langsung ikut UMPTN, dan dia gagal. Tetapi setelah UMPTN, dia pun ikut ujian Politeknik Swiss ITB di bandung. Saat itu ada 5 tes yang harus dilewati. Tes pertama adalah tes tertulis, dan dia masuk peringkat 5 besar. Ohhh aku masih ingat bagaimana wajahnya yang terlihat begitu bangga saat itu. Bapak juga menepuk2 pundak abangku tanda bangga. Begitu bahagia! 4 tes sudah dilalui dengan baik, dan terakhir dia tes kesehatan.

Ntah mengapa malam hari sebelum tes kesehatan diadakan, dia demam tinggi. keesokan harinya dia memaksa diri utk tetap ikut tes kesehatan. Dan hanya karena itu dia dinyatakan gagal.

Abangku protes dan langsung datang ke rektorat, mencoba mendapatkan keadilan. Para rektor di sana terkejut dengan sikap abangku yang berani. Akhirnya abangku di tawarkan untuk kuliah di bangka, univ negeri. Terserah abangku mau ambil jurusan apa saja, tanpa tes dan dijamin masuk disana, begitu kira-kira penawaran dari rektor. Abangku konsultasi ke bapak dan bapak bilang tidak usah.

Aku tau, abangku sebenarnya sangat kecewa sekali. Akhirnya abangku ikut bimbel di jakarta selama setahun, sambil kuliah di swasta.  Pernah suatu kali ketika abangku turun dari angkot, tiba2 abangku terjatuh dan kepalanya terbentur alas pintu angkot. Dari kabar yang aku terima abangku sempat pingsan. Sampai sekarang masih pertanyaan, mungkin itu menjadi faktor penyebab kelabilan abangku. Entahlah…

Tahun kedua, dia pun kembali mengikuti UMPT, bersamaan dengan kelulusan abangku yang nomor dua. Dan hasilnya…. Abangku yang tertua gagal, sementara abangku yang kedua lulus di UGM jurusan Teknik Nuklir Fisika.

Mungkin hal itu juga menjadi pemicu tekanan yang dia rasakan. Mungkin dia merasa dia sudah gagal menjadi kebanggaan orangtua, adiknya lebih berhasil ketimbang dirinya… Saat itu perhatian terfokus pada abangku yang kedua. Rasa kecewa bapak terbayar dengan kelulusan abangku yang kedua ini.

Mulai dari situ, gejala-gejala labil abangku semakin tampak… Yah… tahun 1997 abangku sudah mulai labil. Cukup Parah. Itu adalah awal dari permasalahan yang terjadi di keluargaku.

Mungkin cerita ini bisa menjadi pembelajaran bagi para orangtua, agar tidak menuntut anak terlalu berlebihan. Tidak membanding-bandingkan atau membeda-bedakan perlakuan terhadap anak. Tidak semua anak memiliki mental yang sama dan kuat.

Aku pun belajar dari pengalaman ini. Suatu saat, apabila Tuhan ijinkan aku menikah dan mempunyai anak, aku tidak mau terlalu memaksakan kehendak. Mendidik mereka dengan kasih bukan dengan tuntutan. Menjadi seorang pengayom dan tentu saja menjadi teladan. Banyak para orangtua yang hanya tau menuntut tanpa menjadi teladan. Itu pun bisa mengganggu psikologi anak.

Aku berharap bahwa abang tertuaku ini bisa menjadi seorang abang yang mandiri (minimal untuk dirinya sendiri). Sungguh aku mengasihinya dengan segenap hatiku.

Setiap aku berbicara dan mengajak ngobrol dengan abangku, aku selalu berkata aku menyayanginya dan aku menyesal dengan semua sikap2 jahatku selama ini, terutama ketika masih kecil. Aku tidak tau apakah abangku mengerti dengan ucapanku ini atau tidak, tapi selama aku masih bernyawa… aku akan tetap mengatakan hal yang positif kepada abangku. Bahwa aku bangga memiliki seorang abang seperti dia.