Posts from the ‘Curhatan kosong’ Category

Hari Raya Galungan Bersama Sahabat

Hari ini tanggal 21 Mei 2014, seluruh umat Hindu Bali merayakan galungan.

Senang sekali rasanya ketika kemarin aku di undang oleh sahabatku yang aku kenal saat aku masih duduk di bangku kuliah dulu. Aku lebih suka memanggil dia dengan sebutan Sinyoooo (huruf  i jangan di ganti dengan huruf O yah… nti malah kayak merk elektronik lagi, xixixi). Sebenarnya namanya Nyoman… ciri khas bali sekali bukan?

Btw anyway busway, apa sih Galungan itu? Berdasarkan hasil survei dan dengan gaya sok wartawan aku mulai mengorek habis informasi seputar galungan kepada temanku ini. Galungan memiliki makna kemenangan Dharma (Kebenaran) melawan Adharma (Ketidakbenaran). Mereka merayakan kemenangan tersebut dan membuat persembahan sebagai ucapan terimakasih kepada Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara sebagai tanda puji syukur atas rahmatnya serta untuk keselamatan selanjutnya. 10 hari setelah mereka merayakan galungan, akan diikuti dengan perayaan kuningan.

Disana aku sempat foto beberapa makanan unik yang sudah di olah olehnya, makanan khas bali dengan nama yang unik.

Nama makanan di bawah ini adalah tum. Di olah dengan bumbu lengkap, kemudian dibungkus dengan daun setelah itu di masak deh…

Tum

Kalau makanan di bawah ini kalau tidak salah namanya lawar. Jadi daging itu di tumbuk, kulitnya di rebus dan di tumbuk juga, dicampur dengan kelapa dan beberapa sayuran yang sudah matang, setelah itu di siram dengan air mendidih, kemudian di saring.

Lawar

Nah kalau makanan yang satu ini namanya balung. Dagingnya dimasak dengan nangka…

Balung

Makanan

Sssssstttt kemarin diem2 aku foto sinyo lagi merangkai bunga untuk persembahan hari ini loh…. rangkaiannya belum jadi karena masih harus menunggu buah-buahan dan lain-lain…

nyoman

rangkaian

Nah kalau foto yang terakhir ini adalah foto penampakan Sinyo, dan pria yang ada di belakang nya itu adalah suaminya.

sinyo

Mereka pasangan romantis lohhhh… macak bareng, kemana2 bareng, cari duit bareng, pokoknya semua serba bareng-bareng lahhhh… Romantis betoooooooolllll…. Moga besok2 aku dapet pasangan yang romantis juga dan yang enggak galakkkkk biar bisa romantis kayak sinyo dan suaminya…. Arrrrrgggghhhh kapan nikahnya nehhhhhh???

Akhir kata aku mengucapkan Selamat Hari Raya Galungan untuk semua yang merayakannya ^_^

Acara Perayaan Di Rumah Singgah

Sebenarnya sudah lama aku ingin sharing mengenai keadaan abang sulungku. Aku baru mengetahui dari psikiater abangku bahwa dia dikategorikan sebagai penyandang difabel. Aku mencari banyak referensi mengenai apa itu difabel dan mengapa difabel bisa terjadi. Sampai akhirnya aku bertemu sebuah website yang membahas tentang seputar difabel, kalau kalian mau tau, kalian bisa berkunjung di alamat http://indonesiaindonesia.com/f/43263-seputar-difabel/
Menurut sang psikiater, biasanya penyandang difabel tidak bisa sembuh 100% dan harus rutin mengkonsumsi obat seumur hidup. Manusia boleh berkata tidak mungkin, namun aku percaya bahwa tidak ada yang mustahil di hadapan Tuhan. Aku percaya berkat Tuhan abangku itu sudah disembuhkan. Amin!
Natal tahun lalu abangku tampil di panggung bersama rekan-rekannya di yayasan “Rumah Singgah” yang khusus mendidik penyandang difabel. Sudah hampir setahun abangku berada di yayasan tersebut. Di sana dia di ajarkan hidup mandiri dan berkebun. Aku bahagia menyaksikan beberapa perubahan yang aku lihat pada abangku. Aku yakin, di dalam Tuhan selalu ada pengharapan, dan pengharapanNya itu tidak akan mengecewakan.
Ini salah satu foto yang aku ambil saat abangku tampil di acara natal tahun lalu bersama rekan-rekannya penyandang Difabel.

Foto ini di ambil saat abangku bernyanyi solo lagu Malam Kudus

20131220_162257

Foto di bawah ini di ambil saat abangku bernyanyi vokal group “Hai dunia gembiralah”.  Hehehe suara abangku yang paling keras dan mencolok loh… Orang di pojok kanan yang sedang pegang mic itu bukan penyandang difabel, tetapi dia adalah tentor abangku, aku memanggilnya Ito Hutabarat.

20131220_163316

20131220_163307

Foto ini di ambil saat para penyandang difabel berkumpul memberi penghormatan kepada para penonton. Orang di pojok paling kiri yang pakai batik dan pegang mic itu adalah ketua Yayasan, namanya Pak Irsan.

20131220_165239

Sebenarnya aku ingin sekali upload video dimana abangku menyanyikan lagu Malam Kudus di acara tersebut. Tapi sayang aku kurang paham cara upload video *.MP4  di wordpress yang gratisan. Mungkin lain kali kalau aku sudah tau caranya, aku akan melampirkan video tersebut.

 

 

Alat Canggih Penghilang Komedo Murahhhh :)

Horeeee akhirnya ketemu juga alat untuk menghilangkan komedo.
Akhir-akhir ini aku giat melakukan diet dan perawatan wajah. Kayaknya aku lagi puber kedua nih… xixixi… Paling males tuh kalau harus facial ke salon, selain harganya mahal terus hasilnya juga kayaknya biasa aja deh. Entah karena aku pergi ke salon yang murahan atau emang dasar wajah aku yang bandel untuk di rawat… capedehhh…
Terus seperti biasa aku iseng aja cari alat pembasmi komedo yang mudah digunakan. Aku kira harganya mahal, ternyata murah meriah euyyy… cuma 103.500 rupiah.
Mulai deh nih otak itung-itungan… tempat termurah aku facial harganya 50 ribu, kalau aku beli alatnya langsung, itu pastinya jauh lebih efisien dong. Betul gak sih…. Betul lahhhh… Bayangin aja hanya dengan uang seratus ribuan aku bisa melakukan perawatan wajah sendiri di rumah berkali-kali. Selain hemat bensin, hemat waktu, dan aku juga bisa melakukan perawatan kapan aja aku mau. Pokoke keren banget lah nih alat… canggih cuy…
Kalau tidak salah nama alatnya Power Pore 4 In 1
Nah di situ aku dapet 4 macam brush gitu deh, masing-masing ada fungsinya sendiri-sendiri. Pokoke ada panduannya lah…
Kalau teman-teman ada yang males ke salon seperti aku, kalian bisa beli alatnya klik aja disini
Oke deh… good luck yah… moga wajah kita makin hari makin kinclong sampai para pria pakai kacamata riben utk melihat wajah kita yang putih bersinar muluzzzzz…. Wkwkwkwwkwkwk…

Cinta Dan Rumah Tangga (2)

Berpikir, merenung tentang arti dari sebuah pernikahan… Sebagian orang ada yang takut untuk menikah karena takut menyesal. Mungkin ketakutan itu datang karena mendengar banyak cerita tentang keretakan rumah tangga orang lain, mungkin juga ketakutan itu datang karena trauma masa kecil. Namun demikian, dari sekian banyak penduduk dewasa yang ada di bumi ini, saya percaya lebih dari 80% mereka semua menikah.
Pada topik Cinta dan Rumah Tangga Bagian 1, saya lebih banyak membahas tentang topik seputar keretakan rumah tangga. Si istri yang tidak taat kepada suami, si suami yang tidak menghormati istri, akibat dari campur tangan pihak ketiga baik itu keluarga besar/selingkuhan. Di situ banyak di kupas mengenai berbagai macam keretakan yang sering terjadi. Namun di akhir tulisan, apapun penyebab keretakan rumah tangga, yang menjadi korban selalu 3 pihak, yaitu suami, istri, dan anak. Mereka bertiga yang akan menjadi korban, bukan orang lain.
Di sini mungkin saya akan sharing mengenai sedikit pengalaman rumah tangga orang tua saya.
Ketika saya masih kecil, saya menyaksikan banyak pengalaman buruk mengenai rumah tangga orangtua saya sendiri. Almarhum bapak saya yang suka memukul mama, tidak memenuhi kewajibannya dalam menafkahi istri dan anaknya, dan terlalu fokus mengurusi “keluarganya” bahkan sempat terdengar kabar selingkuh. Hal itu menimbulkan luka di hati saya.
Kemudian mama saya seorang yang memiliki jiwa usaha. Kadang dia sering pergi keluar kota, dan cukup jarang ada di rumah. Hal itu juga mendatangkan luka di hati saya. Saya merasa orangtua saya tidak mengasihi saya sama sekali.
Tidak jarang saya melihat mata mama saya lebam akibat pukulan bapak, dan tidak jarang saya mendengar suara teriakan, makian, sahut menyahut dengan nada marah dari bapak dan mama.
Dulu saya berpikir saya begitu membenci bapak yang suka main kasar ke mama, dan saya juga membenci mama yang jarang ada di samping saya. Ada banyak kebencian yang menguasai hati saya.
Saya juga berpikir bahwa mama saya adalah orang yang bodoh. Mengapa mama tidak pernah mau bercerai dengan bapak sekalipun mama sering dipukul dan di aniaya? Apa sebabnya? Saya tidak pernah habis pikir mengenai hal itu.
Ketika kuliah saya mengikuti konseling rohani dan sedikit demi sedikit saya mulai memutuskan untuk mengampuni kedua orangtua saya. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Rasa kecewa, dendam, amarah sering sekali timbul, dan itu menjadikan saya pribadi yang keras, tidak percaya cinta, egois, dan pemberontak.
Setiap hari saya selalu bertanya dalam hati, mengapa mama tidak mau bercerai?
Kisah saya ini adalah kisah masa lalu… Saya menceritakannya hanya untuk pembelajaran kepada para orangtua / kepada para suami-istri yang mungkin juga mengalami pergumulan dalam rumah tangganya.
Setahun sebelum bapak saya meninggal, bapak saya berubah drastis menjadi pribadi yang sangat hebat. Ayah yang baik, suami yang melindungi istri, dan saya bersyukur untuk 1 tahun terakhir sebelum kepergiannya. 1 Tahun terindah yang tidak akan pernah saya lupakan.
Namun walau saya sudah mengampuni bapak dan mama, ternyata pengalaman masa lalu saya yang pahit itu memberikan dampak yang tidak sehat untuk pertumbuhan kedewasaan saya.
Saya selalu takut untuk di ajak menikah. Trauma-trauma masa lalu selalu menghantui saya, dan lagi-lagi saya bertanya dalam hati… mengapa waktu itu mama tidak mau bercerai dengan bapak? Saya selalu bilang ke mama, kalau nanti suami saya main tangan ke saya, maka saya akan main kaki ke dia. Kalau dia kasar dan menganiaya saya, maka saya akan bercerai dengan dia. Kalau begini maka saya akan begitu… Di pikiran saya ada begitu banyak kata “kalau… maka saya…” mengenai masa depan pernikahan saya.
Ya, saya begitu trauma dan takut.
Saya selalu mencari-cari alasan kalau ada yang mengajak menikah. Saya selalu merasa tidak siap untuk menikah. Saya takut tidak bahagia. Itu dampak dari ketidakharmonisan orangtua saya.
Saya bukan seorang yang mudah menangis, dan menunjukkan sisi lemah saya. Saya seorang yang mandiri dan jarang meminta pertolongan kepada orang lain. Bahkan kepada saudara-saudara kandung saya pun saya jarang meminta bantuan. Rasa gengsi saya membuat saya hidup di dalam topeng. Topeng sok kuat, topeng sok tegar, topeng sok tidak butuh orang lain, dan banyak topeng-topeng yang lainnya. Saya takut ketika orang melihat sisi lemah saya, orang akan menginjak-injak saya dan meremehkan saya sebagai wanita yang cengeng dan tidak dapat di andalkan. Saya tidak mau di injak-injak seperti mama yang di injak-injak oleh bapak.
Topeng-topeng itu selalu saya kenakan, bahkan ketika saya memiliki seorang pacar, saya selalu mengenakan topeng itu. Saya tidak pernah memberi kesempatan kepada kekasih saya untuk mengetahui apa isi hati saya. Ketika saya sedih, saya diam. Ketika saya marah, saya diam. Saya tidak pernah terbuka mengenai banyak hal. Sejak kecil tidak pernah ada yang mau mendengarkan saya sehingga ketika saya dewasa, saya merasa canggung untuk terbuka. Dan hal itu sangat menyiksa saya. Ketika saya tidak tahan berdiam diri, maka emosi saya bisa meledak-ledak dan mengungkit-ungkit masa lalu. Dan ketika saya merasa pasangan saya cuek serta menyakiti hati saya, maka saya bisa lebih cuek dan lebih menyakiti perasaannya. Rasa tidak adil yang saya alami ketika kecil itu saya lampiaskan ketika saya dewasa. Dan hal itu bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan. Saya memiliki hubungan yang tidak sehat. Saya menuntut “kesempurnaan kasih sayang” dari pasangan saya, dan ketika saya merasa kasih sayangnya tidak seperti yang saya harapkan, saya menjadi frustasi, kecewa, dan marah.
Butuh lelaki berjiwa besar yang bisa menerima kondisi mental saya yang seperti itu. Saya tau, itu semua karena luka hati saya ketika kecil belum tuntas. Dampak dari ketidakharmonisan orangtua membuat saya menjadi pribadi yang keras. Saya berjuang melawan luka hati saya, saya banyak mencari referensi dan cerita-cerita seputar kehidupan rumah tangga, saya mencari tau tentang bagaimana menyenangkan pasangan, apa yang disukai pria dan wanita, dan saya berusaha menjadi baik. Semakin saya berusaha menjadi baik, justru semakin buruk yang saya lakukan.

Sampai akhirnya saya menonton sebuah acara film di televisi, menceritakan tentang keluarga yang tidak harmonis. Dan seorang tokoh agama di dalam cerita itu berkata, banyak yang tidak mengerti makna dari arti kata ” apa yang telah di persatukan oleh Tuhan tidak dapat di ceraikan oleh manusia, kecuali oleh kematian”.
Tiba-tiba saya kembali teringat masa kecil saya dulu. Yah… saya memang belum memahami makna dari arti kata tersebut. Saya sendiri punya prinsip bahwa menikah hanya sekali seumur hidup, namun saya masih belum mengerti makna dari prinsip saya tersebut. Perinsip “yang tidak saya mengerti makna nya itu“, membuat saya menjadi terlalu berhati-hati dalam memilih pasangan hidup.
Seperti ada tabir yang terbuka, saya seperti melihat cara pandang yang baru. Memang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, namun sekarang saya bisa memahami mengapa mama tidak mau bercerai dengan bapak waktu itu.
Mengapa saya membahas masa lalu saya ini? Karena saya sering melihat statistik blog saya banyak yang mencari kata kunci seputar permasalahan keluarga.
Dari kisah saya, bisa disimpulkan beberapa faktor.
Pertama, faktor psikologis anak. Ketika pasangan pasutri bertengkar, ribut, saling adu mulut, bahkan mungkin main tangan, ingatlah bahwa selalu ada anak-anak yang akan menjadi korban. Dan dampak itu bisa berlanjut terus hingga anak ini dewasa (apabila tidak di tangani dengan benar). Bahkan sekalipun pasangan orangtua sudah harmonis lagi, namun trauma dari pertengkaran itu harus ditangani dengan serius.
Kedua, faktor dari psikologis pasangan. Mungkin ada di antara anda yang merasa suami/istri saya sangat keras kepala. Suami/istri saya lebih senang bermain dengan kawan2nya, lebih egois, tidak jujur, bahkan mungkin kasusnya sama seperti yang pernah saya lakukan di atas… meledak-ledak dan mengungkit-ungkit, seperti menuntut kesempurnaan “Kasih sayang” dari pasangannya. Saran saya, coba selidiki seperti apa masa kecil pasangan anda. Anda perlu berjiwa besar dan berikan kasih sayang yang tulus, berbicara dari hati ke hati agar pasangan anda bisa berubah. Ingat, butuh jiwa yang besar untuk bisa melakukan semua itu. Harus ada pihak yang mau mengalah, bahkan sekalipun anda tidak bersalah… kadang pihak yang tidak bersalah pun harus mau berkorban dan mau disalahkan agar hubungan bisa harmonis kembali.
Terakhir, faktor dari anda sendiri sebagai suami/istri. Jika anda merasa dan menyadari bahwa memang selama ini anda egois terhadap pasangan anda, anda sudah tidak jujur dan bahkan melukai pasangan anda. Ini saatnya untuk anda berhenti bersikap seperti itu dan meminta maaf serta berubah. Ingatlah, ketika anda sebagai suami/istri melukai pasangan anda, bukan hanya pasangan anda saja yang terluka, tetapi keturunan anda, darah daging anda sendiri bisa terkena dampak dari perbuatan anda.
Pernikahan adalah sesuatu yang harus di jaga. Kalau orang pacaran mungkin bisa putus, tetapi pasangan yang sudah menikah dan bahkan sudah mempunyai anak, hubungan itu harus selalu dijaga dengan hati-hati. Bagaimana untuk pasangan yang belum mempunyai keturunan? Tetaplah jaga pernikahan anda dan jangan menyerah dengan keadaan. Karena apa yang telah dipersatukan dihadapan Tuhan, tidak dapat dipisahkan oleh manusia, kecuali oleh kematian.
Itu sebabnya untuk umat muslim, akad nikah harus dipimpin oleh penghulu, bahkan rata-rata dilakukan di dalam mesjid (kecuali wanita sedang datang bulan maka akad nikah tidak bisa dilaksanakan di mesjid). Karena melalui akad nikah, maka hubungan antara dua insan yang saling bersepakat untuk berumah tangga diresmikan di hadapan manusia dan Tuhan (sumber http://id.wikibooks.org/wiki/Tahu_Sama_Tahu/Menikah/Akad_nikah)
Dan untuk umat kristiani ada yang namanya Pemberkatan Nikah. Itu pun di pimpin oleh pastur/pendeta dan dilaksanakan di gereja. Untuk umat Hindu dan Budha pun sama saja… ada acara-acara ritual keagamaan yang harus mereka jalankan. Karena pernikahan itu bersifat kudus dihadapan Tuhan.
Ingatlah, tetap jaga pernikahan anda semaksimal mungkin. Keputusan yang anda buat hari ini, akan menentukan seperti apa anda di tahun-tahun yang akan datang. Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan, apabila badai menerpa rumahtangga anda… jangan lupakan Tuhan. Selalu ada Tuhan yang pasti akan memberi kekuatan dan penghiburan. Rencana Tuhan selalu indah tepat pada waktuNya.

Kamera Pengintai

Minggu kemarin salah satu teman aku yang dari batam bercerita tentang hal yang cukup mengerikan. Kebayang gak sih, ada temannya yang mengalami tragedi pembunuhan di apartementnya.  Pokoknya seram sekali deh ceritanya… Kabar burung mengatakan kalau pembunuhan itu terjadi karena masalah pekerjaan.

Akhir2 ini banyak banget yah kasus begitu. Baru2 ini lagi hot berita tentang sang mantan yg tega membunuh karena sakit hati. Benar-benar mau kiamat kali dunia ini. Inti dari semuanya kita emang harus banyak-banyak berdoa biar kita dilindungi oleh Sang Pencipta.

Btw lanjut ke cerita teman aku yang dari batam itu, setelah ngobrol panjang lebar, dia merasa sedikit was-was katanya. Kemudian aku menyarankan “Gimana kalau di rumahnya di pasang kamera pengintai saja?”

Wah, keren juga ya kalau di rumah ada kamera pengintai… tapi harga kamera begitu pasti mahal…

Akhirnya setelah tanya-tanya teman aku yang lain, ada kamera pengintai yang harganya murah dan bisa di connect / di akses dari iphone, ipad, 3g phone, dan smartphone.  Harganya pun relatif murah… hanya 1.350.001 rupiah.   Terus juga bisa mengirim email otomatis deh klo gak salah klo camera menangkap ada wajah asing.

Of course untuk harga sebuah cctv dengan fitur yang relatif lengkap, harga segitu termasuk murah. Apalagi teman aku bilang kalau camera ini cocok untuk pengawasan pada malam hari atau di area dgn tingkat pencahayaan rendah karena telah dilengkapi 12 LED Infrared CUT-filter. Kontras dan detail gambar tetap terlihat maksimal. Selain itu night visionnya dapat menjangkau hingga jarak15-20m.   Wewwwww… seriusss???

Dengan semangat 45, dia menunjukan camera yang dia maksud waktu aku berkunjung kerumahnya dan dia pun menunjukan bagaimana camera itu bisa di akses di iphone miliknya. Wahhhh dalam hati sempet mikir, boleh juga tuh… Apalagi di jaman yang serba mengerikan begini, banyak kejahatan yang terjadi… seperti kemarin di berita aku nonton ada perampokan di sebuah toko, suaminya di tusuk berkali-kali… tentu saja dengan adanya camera, sangat membantu apabila terjadi kejahatan.

Sempet tertarik dan terpikir juga untuk pasang camera pengintai di rumah… Nah, untuk teman-teman yang mungkin tertarik, aku hanya share aja… link ini aku dapat dari teman aku yang sudah punya camera tersebut… ini link nya

Klik Di Sini

Kalau mau info lebih detail, coba aja klik link itu, takutnya penjelasanku tadi ada yang salah… transaksi di situ di jamin aman, karena mereka pakai sistem transfer rekening bersama. Kalau menggunakan rekber (rekening bersama), setelah si pembeli transfer ke rekber, maka si penjual tidak akan bisa mencairkan uangnya apabila barang belum di terima si pembeli. Dan kalau barang tidak kunjung datang, maka uang yang di transfer tadi bisa kita ambil lagi. Begitu kata teman aku.

Semoga bermanfaat yah ^_^

Jakarta Banjir Lagi…

Dari kemarin hingga siang ini, televisi marak memberitakan tentang bencana banjir yang menimpa kota Jakarta. Kabar mengatakan bahwa banjir datang karena air kiriman dari bogor. Khusus di daerah Bekasi – Jatibening, kemarin sore (28-01-2014) diperkirakan air naik dengan ketinggian sekitar 50 cm sampai 1 meter. Sempat surut, namun pada jam 3 subuh dini hari (29-01-2014), air kembali naik hingga se-dada orang dewasa. Bahkan kabar yang aku dengar, banjir sudah setinggi lebih dari 2 meter sehingga beberapa masyarakat yang tinggal di blok tertentu di daerah Jatibening harus di ungsikan.

Berikut ini foto-foto banjir yang di kirim oleh salah satu teman yang tinggal di daerah Jatibening.GambarGambarGambar

GambarGambarGambarGambar

Kadang-kadang kalau melihat kejadian seperti ini, hati sering bertanya-tanya, apakah mungkin banjir di kota Jakarta bisa diatasi? Mungkinkah Jakarta akan bisa terbebas dari bencana banjir seperti ini? Seandainya saja ada alat yang bisa mengubah air menjadi uang, tentu Jakarta akan bergembira ria menyambut datangnya banjir setiap saat (mimpi kali yeeeee…)

Wiraswasta atau kerja kantoran???

Tahun kemarin, setelah aku resign dari tempat aku bekerja, aku sempat mengalami sedikit kebingungan. Usia segini, apa masih ada yang mau menerima aku jadi karyawan? Seperti umumnya pengangguran baru, mulailah aku bergegas membeli koran, cari lowongan di sana dan di sini, rajin-rajin search lowongan di internet, bla bla dan bla…
Namun sayangnya rata-rata lowongan yang sesuai dengan bidangku adanya di Jakarta.
Hehehe kadang aku ketawa sendiri, dulu aku begitu menggebu-gebu ingin pindah ke Jakarta, ada banyak harapan dan hal-hal yang aku bayangkan kalau sudah di Jakarta. Mungkin aku membayangkan bahwa pekerjaanku nanti akan sama seperti ketika aku bekerja di Bekasi tahun 2005 yang silam.
Tahun 2005-2006 adalah masa-masa terbaikku. Banyak kenangan indah yang tidak mau aku lupakan. Disana lah gambar diri dan rasa percaya diriku mulai terbentuk. Aku menyukai masa-masa itu dan ingin sekali mengulangnya lagi. Tapi situasi sekarang berbeda. Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia, orang-orang yang aku kenal dulu tidak sama dengan orang-orang yang aku kenal saat aku kembali menginjakan kaki kesana tahun 2013. Sempet kecewa, tapi tidak apa-apa.
Akhirnya aku kembali lagi ke Lampung.
Sampai pada saat Natal kemarin, abang kandung aku yang kedua bersama adikku datang ke lampung. Kami banyak sharing, dan tiba-tiba abang aku itu bilang “Kenapa tidak usaha sendiri saja?”
Aku bilang, aku udah mencoba usaha merajut, tapi hasilnya tidak maksimal karena mungkin kelemahanku ada di marketing. Aku memang sembari menjual motor di Lampung, cuma untuk itu juga butuh modal yang besar.
Sehari sebelum abangku kembali ke Jakarta (awal tahun baru 2014), seperti biasa abangku pasti akan membeli oleh-oleh untuk temannya di Jakarta yaitu keripik pisang coklat dan pempek palembang. Lalu tiba-tiba abang aku bilang, “Kenapa tidak usaha makanan saja? Kalau jual makanan pasti lebih mudah dan keuntungannya pun bisa 100%. Coba loe buat pempek palembang, prospeknya bagus, apalagi kalau rasanya enak, pasti akan banyak peminat. Buat sesuatu yang berbeda. Kalau orang kasih A, maka loe harus bisa kasih A+B.”
Singkat cerita aku mulai tertarik dengan apa yang dikatakan abang aku itu. Hehehe beruntung juga sih punya abang yang punya pandangan ke depan. Apalagi dia mengatakan soal modal tidak usah di pikirin. Wah, itu jadi tiket utamaku untuk ber-wiraswasta ria.
Banyak yang bilang aku pintar buat kue, seperti nastar, bolu, puding, dll. Akhirnya aku pun mulai berkreasi di dapur. Hahaha kreasi pertama, hasilnya dapurku acak-acakkan. Tepung sagu bertaburan dimana-mana. Namun setelah 2 jam lebih aku bergumul di dapur, jreeeeeeng… terhidanglah pempek buatanku. Bentuknya bagus, kalau di lihat kasat mata rasanya sepertinya enak. Baunya juga khas pempek palembang, ada bau ikan dan tampaknya menggiurkan.
Dengan penuh percaya diri, aku menyuguhkan pempek tersebut dihadapan sang mama tercinta.
Masih teringat dengan jelas bagaimana mata mamaku berbinar penuh sukacita saat aku menyuguhkan pempek tersebut di depan matanya (jiahhhh lebay….). Akhirnya deg-degan plus penasaran, sambil aku pandangi wajah sang mama (juri pencicip), mama aku pun mulai mengambil pempek tersebut, terus dicelup-celupkan ke cuka dan tibalah gigitan pertama. Jreeeeeeeeeeeeeeeng… kenapa wajah mama jadi aneh begitu yah??? Bibirnya maju ke depan, giginya menyeringai, sedikit mengernyit akhirnya pempek tersebut berhasil ditelannya. Setelah agak lama mengunyah akhirnya sang juri pun berkata “Butet, pempeknya kok keras begini yah?”
What???? Langsung aku ambil sepotong dan aku coba gigit. Ampun dehhhh, serasa makan batu karet. Keras bangettttt… Hikzzz… tapi aku coba berbesar hati, namanya juga baru pertama kali belajar maaaa…
Yah, setidaknya aku sedikit terhibur saat melihat Laura menyantap pempekku dengan lahap (Laura adalah nama anjing keturunan dalmantion kesayanganku).
Beberapa kali aku melakukan eksperimen. Dengan berbagai macam resep dan adonan, akhirnya sekarang pempekku bisa lebih lembut dan gurih. Thanks to God!
Setelah aku berhasil membuat pempek yang enak, besoknya aku mendapat panggilan pekerjaan. Capedehhhh… Di situ niat usahaku kembali di uji. Aku di tawari salary awal 3juta, tinggal di mess dan harus siap hidup di perkampungan (karena perusahaan tersebut adalah perusahaan tambang batubara). Namun, aku harus di kontrak 2 tahun dan tidak boleh menikah saat masa kontrak tersebut. Gubraaaaaaaaakkkk…
Setelah panggilan kerja tersebut, aku pun mengambil keputusan… memilih antara bekerja atau berwiraswasta. Akhirnya aku beranikan diri dan membulatkan tekad untuk berwiraswasta. Aku berkata pada diri sendiri, sudah cukup aku melamar kerja, aku tidak mau lagi disibukkan dengan berkas-berkas lamaran, fotocopy ijasah, pas photo terbaru, dll. Aku putuskan utk tidak akan melamar pekerjaan lagi dan fokus di usaha makanan. Toh kalau bekerja di kantoran paling gaji yang aku dapatkan hanya naik tipis setiap tahunnya. Sementara kalau usaha sendiri, aku bisa mengatur waktu dan aku sangat yakin penghasilanku bisa lebih meningkat.
Doakan aku yah teman-teman agar usaha ini bisa berjalan lancar dan sukses. Ciayooo…

I love you Grandma…

Ada orang bijak berkata bahwa cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan.
Semua orang pasti membutuhkan uang, membutuhkan uang dan mencintai uang adalah 2 kalimat yang memiliki makna yang sangat berbeda.
Demi uang, hubungan persaudaraan sudah tidak di pandang, semua menjadi musuh, saling bertengkar, iri hati, dengki, menjatuhkan, mengadu-domba, dan saling menusuk satu sama lain.
Bayangkan ketika kita sudah menjadi tua, dengan harta berkelimpahan, mempunyai beberapa orang anak yang hanya memikirkan uang, harta, dan warisan. Sungguh menakutkan menjadi orangtua yang seperti itu. Ketika melihat anak-anak kita saling menyerang karena harta. Padahal kita masih hidup. Bagaimana perasaan kita, saat anak-anak kita selalu membicarakan tentang warisan, padahal kita sendiri masih hidup??? Apakah itu sama artinya dengan menyumpahi kita cepat mati??? Sungguh menyedihkan menjadi orangtua yang seperti itu. Ketika mereka di minta untuk mengurus kita di hari tua kita, mereka saling tidak mau peduli dan saling melimpahkan tanggung jawab kepada yang lain. Namun apabila membicarakan tentang warisan, masing-masing anak saling berlomba mengacungkan jarinya… semua karena harta! Apa yang akan terjadi kepada anak-anak kita nanti jika kita mati nanti? Mungkinkah mereka akan saling membunuh satu sama lain? Karena dimana hartamu berada, disitu juga hatimu berada.
Aku berharap bahwa hidupku tidak akan mengalami kejadian menyeramkan seperti itu. Aku berharap bahwa jika Tuhan Yang ESA memberikan kepercayaan kepadaku harta berkelimpahan, anak-anak ku tidak akan menjadi anak yang durhaka, namun tetap memiliki hati yang takut akan Tuhan, penuh kasih, rendah hati, dan lemah lembut.
Aku bersyukur dan bangga memiliki mama yang hebat. Mama yang selalu mengajarkan tentang pelajaran kasih. Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.
Ketika mama pulang dari medan kemarin, alangkah sedihnya hati ini mendengar bagaimana kehidupan paman dan tanteku di sana. Bagaimana mereka memperlakukan nenek ku. Bahkan sepupuku pun ikut berlaku jahat. Aku begitu sedih… jika saja nenek memiliki kekuatan untuk bisa melakukan perjalanan jauh, aku ingin nenek di bawa ke lampung. Biar kami yang mengurus nenek di sini. Namun kondisi kesehatannya dan keadaan fisiknya sudah sangat lemah sekali. Dokter pun tidak mengijinkan nenek untuk naik pesawat terbang.
Aku ingin sekali bisa merawat nenek, dan kami tidak peduli dengan harta benda yang dimiliki nenek. Bahkan sekiranya kami tidak mendapat bagian apapun dari apa yang dimiliki nenek, kami ikhlas. Karena tanpa harta nenek, kami bisa hidup dengan nyaman dan sejahtera. Hanya satu yang aku inginkan, yaitu merawat nenek dan membuatnya bahagia sampai ajal menjemput.
Karena apa yang kita tabur, itu yang akan kita tuai kelak. Saat kita menjadi seorang anak, memang ada kalanya kita melawan orangtua, namun jika kita sudah durhaka terhadap orangtua kita sendiri, suatu saat anak-anak kita pun kemungkinan besar akan seperti itu kepada kita.
Materi, uang dan harta itu bisa habis dalam sekejap. Bahkan jika Tuhan mau, DIA bisa melenyapkan segala apa yang kita punya di dunia ini untuk meruntuhkan kesombongan kita… Allah Maha Besar!
Saat ini, hanya doa yang dapat aku panjatkan kepada Tuhan Pencipta langit dan bumi, agar dimanapun nenek berada, hidupnya selalu dijaga… agar Tuhan mau mengirimkan orang-orang tulus untuk merawat nenek di medan, dan agar Tuhan memberikan mukjizatnya agar nenek bisa sehat dan di bawa ke lampung untuk kami rawat sampai akhir hayatnya.
Ingatlah… apa yang kita tabur, itu yang akan kita tuai! Jika kita ingin anak-anak kita membahagiakan kita di hari tua kita nanti, maka bahagiakanlah orangtua kita sendiri di hari tua mereka saat ini.
I love you grandma…

Lampu Emergency tanpa baterai dan listrik cuy… Kerrrreeeeennnnn

Akhir-akhir ini di rumahku suka ada pemadaman lampu bergilir. Paling kesal kalau pas mati listrik terus aku lupa cas lampu emergency… ujung-ujungnya terpaksa deh pake Lilin. Hikssss…
Terus iseng-iseng aku nyari lampu emergency tanpa listrik, hehehe syukurlah ada juga penjual yang menjual lampu emergency tanpa listrik dan tanpa baterai pula… kebayang gak sih, tidak pakai listrik dan baterai loh… lampunya keren banget, tinggal di kocok aja stengah menit, tuh lampu langsung nyala… sebenernya bentuknya hampir mirip kayak senter, tapi bisa jg di pakai untuk menerangi ruangan. Jadi ya sekarang aku tidak perlu khawatir lagi lah kalau mati listrik di rumah.
Pasti kalian gak percaya kan??? Nih link nya yang jual lampu emergency tanpa listrik dan baterai. Pokoke buat yang rumahnya sering mati lampu, or buat para petualang yang suka melancong ke hutan-hutan, pegunungan dan goa-goa… kudu wajib deh punya lampu kayak gini.
Klik aja Di Sini
Hari gini mati listrik??? Siapa takuttttttttttt…. huehehe…

I SURRENDER

Banyak kejadian di hidup ini yang tidak aku pahami.

Yeah… namanya orang hidup, pasti selalu di perhadapkan pada dua pilihan yang berlawanan. Kalau tidak kanan ya kiri, kalau tidak atas ya bawah, kalau tidak depan ya belakang, kalau tidak maju ya mundur…

Hanya saja yang tidak aku mengerti adalah bagaimana cara mengetahui pilihan yang kita pilih itu benar atau salah?

Karena ada tertulis, “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”   Benar-benar membingungkan bukan???

Andai aku punya kemampuan supra natural dalam mendengarkan suara Tuhan dengan sangat jelas, aku pasti tidak akan sebingung ini. Lagi-lagi aku hanya bisa menerka-nerka dan mengandalkan logika sendiri. Memikirkan yang terbaik untuk semuanya. Hmmmm… mungkin bukan yang terbaik untuk semuanya, tetapi mungkin ini untuk ke ego’an ku sendiri… Mungkin aku yang terlalu bodoh dalam mengambil keputusan… Atau mungkin aku yang terlalu takut memilih. Aku tidak tau… Apapun itu, aku memang harus segera mengambil keputusan. Karena jika semakin lama aku tidak mengambil keputusan, maka luka yang ada akan semakin dalam.

Aku menyerah… Maaf, aku menyerah! Mungkin orang berpikir bahwa aku belum berjuang apa-apa, tapi inilah batas kemampuanku. Hanya sampai di sini… satu hal yang menjadi penghiburanku adalah bahwa dia yang aku kasihi akan bisa bertahan dan tetap kuat berdiri. Aku yakin, dia pasti bisa!

Aku tidak tau seperti apa ujung jalan yang aku pilih ini… Apapun hasilnya, biarlah aku sendiri yang menanggungnya.

Jakarta Oh Jakarta

Hampir sebulan di Jakarta, fiuhhhh dari awal sampai sekarang perasaan semuanya serba berat.

Ada begitu banyak tekanan dan hal-hal yang buat stress.  Yah mau gimana lagi… semua harus di jalani kan?

Entahlah, makin ke sini semua makin berat. Rasanya ingin pindah kerja, tapi mau kerja dimana coba? Bahkan pengetahuanku tentang komputer, jaringan dan bahasa pemrograman pun tidak pernah terpakai lagi. Bisa-bisa ilmuku mati begitu saja karena tidak pernah di asah.

Mau melanjutkan mengembangkan SAP pun rasanya tak punya waktu.

Kemarin adalah hari terberatku. Semua orang hanya tau menuntut, marah, bersikap dingin, memarahi, dan menghakimi. Rasanya kepala mau meledak. Emosi juga tidak terkendali. Kalau sudah begini, yang aku inginkan hanyalah kesendirian.  Aku butuh ruang waktu untuk diriku sendiri.

Pagi ini, masih terasa rasa lelah yang kemarin. Lucu juga yah, sekarang sudah jam 8 pagi tapi aku masih berada di kos.  Padahal aku siap-siap berangkat kerja sudah dari tadi jam 6 subuh. Entahlah, kaki ini rasanya berat sekali melangkah.

Sanggupkah aku melewati semua ini? Atau kah aku harus kembali ke kota asalku?

Pekerjaan kantor yang bertubi-tubi, tidak ada waktu utk bisa santai walau hanya sejenak. Makan siang pun cepat-cepat (mungkin hanya 10 menit), karena semakin lama aku bergerak nanti bisa semakin malam aku pulang.  Belum lagi harus menghadapi omelan dari customer, di tambah lagi tentang tagihan-tagihan dealer yang sudah Jatuh Tempo. Harus analisa PO, request faktur pajak, request barang ke logistik. Harus koordinasi sana dan sini… buat laporan ini dan itu…

Saat sedang mengerjakan PO, tiba-tiba datang telpon dari customer tentang komplain ini dan itu, belum selesai yang satu (disaat yang bersamaan) datang email dari atasan tentang ini dan itu, laporan ini dan itu.  Tangan baru mau bergerak mengerjakan invoice tiba-tiba bagian logistik telepon lagi karena masalah ini dan itu…  Bagaimana mungkin aku bisa mengerjakan 5 pekerjaan dalam waktu yang bersamaan???? Andai tubuh dan pikiranku bisa di bagi 5.  Semua menuntut harus segera selesai.

Saat tidak selesai, semua orang marah… Yang mereka tau hanyalah marah, menghakimi, menuntut…

Saat posisi dalam keadaan tertekan, datang lagi sms dari keluarg a tentang ini dan itu, menghakimiku dan menganggapku begini dan begitu… Tidak ada seorang pun yang bisa memberikan masukan, support, dukungan.  Aku merasa sendirian menanggung semuanya.

Dari pagi jam stengah 5 subuh hingga jam stengah 11 malam, aku harus terus bergumul dengan perasaanku sndiri. Rasa lelah yang makin hari makin menumpuk. Pagi-pagi harus antri nunggu bis. Lari-lari mengejar bis… Bukan hal mudah kalau harus menaiki bis yang sedang berjalan.  Dempetan sana dan sini, berdesak-desakan. Berdiri selama 1 jam di bis, terkantuk-kantuk… Turun dari bis pun harus jalan kaki dulu 5 menitan, sampai di kantor sudah langsung di sibukan dengan berbagai macam rutinitas kantor yang melelahkan.  Malam-malam pulang pun masih harus nunggu bis… Kadang bisa 1 jam berdiri hanya untuk nunggu bis yang lewat. Itu pun harus berdiri lagi… kaki rasanya kram, capek, lelah, penat…

Sampai di kos… aku masih harus beres-beres. Dan entah mengapa kasur anginku harus bocor, sehingga tiap beberapa jam itu kasur harus di pompa.  Tapi sudah seminggu ini aku tidak pompa kasur karena malas. Dan akhirnya aku tidur di lantai.  Awal-awal tidur di lantai, badan rasanya sakit semua. Hahaha… kadang aku ketawa sendiri aja… lucu juga sih… kehidupanku di kota asal kayaknya gak parah-parah amet kayak gini.  Pekerjaanku nyaman, orang-orangnya lumayan enak (walau ada beberapa yang menyebalkan), tempat tidurku empuk.  Makananku teratur… Aku bisa istirahat secukupnya.

Di Jakarta ini, kehidupanku langsung berubah 180 derajad.  Mungkin kalau perubahan ini aku alami setahap demi setahap, mungkin aku tidak begitu se shock sekarang ini. Hahaha… tanpa ada aba-aba, semua langsung berubah drastis.  Siapkah aku dengan perubahan ini? Mampukah aku menjalani semua ini?

Hal positif yang aku dapatkan di sini adalah sekarang aku sudah mulai memasak makanan sendiri.  Walau awalnya mentalku harus di uji lagi, aku harus mengalami rasa malu karena membawa masakanku yang tidak seberapa ini… tapi sekarang aku sudah mulai terbiasa. (sebenarnya kadang aku masih merasa risih dan malu, tapi perasaan itu selalu aku sangkal).

Yah begitulah… di sini aku benar-benar di bentuk dan di tempa habis-habisan.  Mentalku, fisikku, semangatku, kerajinanku, semuanya di bentuk. Dan yang paling menyedihkan adalah, saat semua orang seperti tidak mengerti sama sekali.  Itu membuat aku merasa seorang diri di dunia ini.

Di saat seperti ini, aku merindukan seseorang yang dulu sangat dekat denganku. Seseorang yang dulu selalu menjadi tempat curahan hatiku. Entah itu tentang cowok, pekerjaan, teman-teman… dan sudah 6 tahun aku tidak bertemu dengannya. Sebenarnya aku tau bahwa selamanya aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Karena bapak sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Yah, inilah sedikit curhatanku selama di Jakarta.  Satu hal yang aku yakin, ada hal baik yang sedang menantiku di sini. Tuhan pasti punya rencana. Walau seringkali aku merasa tidak sanggup, tapi aku tau rancangan Tuhan tidak pernah salah. Karena Tuhan tidak mungkin mengijinkan pencobaan melebihi kekuatan umatNya. Matematika Tuhan itu sempurna, analisaNya selalu tepat. Aku percaya kepada Tuhan. Hanya Dia satu-satunya pengharapanku hingga aku bisa bertahan di sini, sampai detik ini.

Tak terasa sudah jam 9, aku harus segera berangkat kerja. Tadi aku sudah sms orang kantor kalau bakal telat datang ke kantor. Hari ini harus semangat…. Klo kata pacarku, Ganbbate!!! ;)

Hari Ulang Tahun ku :)

Tanggal 29 Januari kemarin adalah hari ulang tahunku.  Hehehe aku melewati hari ulangtahunku di jalan menuju kota Jakarta. Aku rasa ini adalah hadiah terindah dari Tuhan. Keinginanku untuk pindah di Jakarta dan bekerja di Jakarta akhirnya dikabulkan. Tuhan itu memang luar biasa baiknya  ^_^

Beberapa orang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku, dan ada juga yang melupakannya… Hehehe tapi walau begitu, aku tetap merasa senang… Aku menerima beberapa hadiah dari orang-orang dekatku… Abang aku yang di Jakarta memberikan aku hadiah uang kos 1 bulan penuh… Kemudian seorang sahabat memberikan aku banyak buku… aku suka sekali buku-buku yang dia berikan… Terus adikku tercinta, dia memberikan 1 buah puisi yang bagus sekali…. Menurutku puisinya sangat menyentuh sekali. Adik aku ini benar-benar berjiwa seni. Andai dia kembangkan lagi bakatnya itu, aku rasa dia bisa terkenal seperti Chairil Anwar… Mau tau puisinya???  Nih, baca yah… hehehe…

 

Angan

matahari terbit bergantilah rembulan
kembali membuatku terdiam dalam kebisuan
bulanpun tak mampu menahan sang mentari
kembali mataku terbuka dalam hari yang sepi

semua yang telah berlalu
merangkai kisah sang putri dalam mimpi
setiap janji dalam langkahku
bagaikan saksi dalam kebisuan hati

kuhirup udara senja nan damai
dalam kesedihan yang tak’kan usai
apakah rasa ini sepenuh hati
amat merindunya meski telah pergi

Tuhan, hari berganti hingga kurasa senja
detikpun berjalan menempuh waktu
tak mampu kumenahan usia yang terasa
hingga hari ini kutempuh ulang tahunku

satu doa satu harapan
janganlah lagi dalam bayangan
kelak kan datang jawaban angan
tuk membayar s’gala pengorbanan

To : Lia Panggabean

Jujur, aku tidak tau apa yang akan terjadi di hidupku di masa yang akan datang. Aku sendiri sekarang berusaha menikmati hidupku sekarang ini. Banyak pergumulan dan tekanan, tapi aku tau bahwa aku harus kuat menghadapinya. Bukankah Tuhan itu memberi pencobaan kepada umatNya tidak melebihi batas kemampuan kita? Aku berusaha ikhlas menjalani segala sesuatu… aku rasa, keikhlasan itu bisa membuat hati ini merasa lebih damai….

 

 

Goal Tahun 2013

Wahhhh… tidak terasa sekarang sudah memasuki tahun 2013.

Tahun kemarin kita dihebohkan dengan berita bahwa dunia mau kiamat tahun 2012, dikarenakan kalender suku maya berakhir di tanggal 12-12-2012.

Hehehe… kalau aku sendiri sih tidak terlalu mengkhawatirkan tentang berita tersebut. Malah terasa lucu mendengarnya. Bukankah yang tau kapan kiamat itu hanyalah Tuhan Yang Maha Esa saja???

Oke… back to topic… berkaitan dengan tahun baru, of course kita semua punya banyak harapan-harapan baru dan cita-cita yang ingin di capai.  Rata-rata orang-orang yang aku tanya, apa goal mereka di tahun baru ini? Mereka hanya menyebutkan bahwa mereka ingin tahun 2013 ini lebih baik lagi dari tahun 2012.  Ya, benar! Pasti lah kita ingin lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Tetapi apa goal yang mereka harapkan di tahun 2013 ini?

Kalau aku sndiri, Goal yang ingin aku capai di tahun 2013 ini adalah segera pindah ke Jakarta, mendapat pekerjaan yang bisa buat aku betah dan yang salary di atas “sekian” juta, menikah, lalu setelah menikah (jika bisa) aku ingin punya kontrakan sendiri, dan aku sangat berharap tahun 2013 ini Tuhan memberikan anugerah seorang anak, dan pastinya harus hidup bahagia ^_^!

Bagaimana dengan teman-teman? Apa goal yang ingin kalian capai di tahun 2013 ini?  Semoga apapun impian kita, apapun goal kita… semua itu bisa tercapai atas seijin Tuhan Yang Menciptakan Langit dan Bumi ini.  Amin.

There can be miracles, when you believe!

Hey guys… udah lama kayaknya aku tidak menulis di blog lagi. Hehehe… maklum, banyak kesibukan di kantor dan kesibukan dengan pikiran sendiri, jadinya tidak sempat untuk menulis. Apalagi di kantor sekarang komputernya udah di protect K9, jadi aku tidak bisa lagi buka sembarang web.  Hiks…

Hari ini, salah satu admin logistikku memutar lagu di HP nya, judulnya When You Believe. Tau kan lagunya?  Hmmm… lagu ini kalau tidak salah pernah di populerkan oleh whitney houston duet ama Mariah Carey deh…

Kalau di serapi kata-katanya, nih kata-kata keren banget… Yang ciptain nih lagu kayaknya udah banyak pengalaman hidup banget…

“There can be miracles, when you believe…”   Asal kita percaya, keajaiban pasti terjadi. Wehhhh keren kan…. Ada mukjizat saat kita percaya!

Ini aku tuliskan lirik lagu When You Believe. Coba resapi dan dalami makna dari setiap katanya. Terus gimana dong kalau tidak bisa bahasa inggris? Ya cari aja lah di kamus… gitu aja kok repot. Huehehe…

WHEN YOU BELIEVE

Many nights we prayed, with no proof anyone could hear
In our hearts a hopeful song, we barely understood
Now we are not afraid, although we know there’s much to fear
We were moving mountains long, before we knew we could

Chorus:
There can be miracles, when you believe
Though hope is frail, It’s hard to kill
Who knows what miracles, you can achieve
When you believe, somehow you will
You will when you believe

Mariah:
In this time of fear, when prayer so often proves in vain
Hope seems like the summer birds, too swiftly flown away
Yet now I’m standing here, my heart so full I can’t explain
Seeking faith and speaking words, I’d never thought I’d say

Chorus:
There can be miracles, When you believe (When you believe)
Though hope is frail, It’s hard to kill
Who knows what miracles, You can achieve (You can achieve)
When you believe, somehow you will
You will when you believe

Bridge: (Both)
They don’t always happen when you ask
And it’s easy to give into your fear
But when you’re blinded by your pain
Can’t see you way clear through the rain
A small but still resilient voice
Says help is very near

Chorus: (Both)
There can be miracles (miracles)
When you believe (When you believe)
Though hope is frail
It’s hard to kill
Who knows what miracles
You can achieve (You can achieve)
When you believe
Somehow you will
Somehow you will
You will when you believe
You will when you, you will when you believe
Just believe, just believe
You will when you believe

Cinta dan Rumah Tangga (1)

JREEEENG… Dari kemarin baca-baca tentang serba serbi pernikahan, rata-rata 85% semua menyatakan rasa penyesalan karena terlalu cepat menikah dan merasa salah memilih pasangan.

Seorang ibu mengatakan “Andai waktu bisa diputar kembali, aku mengalami banyak kehilangan masa mudaku karena menikah muda. Kesenangan-kesenangan yang seharusnya bisa aku nikmati tidak dapat aku sentuh karena aku harus mengurus anak-anak, di tambah lagi aku memiliki suami yang egois dan cuek. Terlalu asik dengan teman-temannya tanpa memikirkan kami istri dan anak-anaknya.”

Sementara ibu yang lain berkata, “Dia berbeda ketika berpacaran dulu, sekarang dia menunjukkan sifat aslinya. Kami sering bertengkar dan aku merasa tidak tahan lagi. Kami seperti minyak dan air, tidak dapat bersatu. Sepertinya ada sesuatu dalam dirinya yang tidak dapat aku sentuh.”

Dan yang lain berkata “Selama pacaran dia memang sudah menunjukkan sikap cuek. Kadang dia begitu sangat romantis, tapi kadang dia begitu sangat tidak peduli dan acuh. Aku kira pernikahan bisa mengubah segalanya. Mengubah sikap cueknya. Namun ternyata setelah menikah, dia justru semakin cuek dan akan bersikap romantis hanya bila dia memerlukanku untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Berulang kali terbersit rasa ingin meninggalkannya, namun aku masih memikirkan perasaan anakku. Jika dia terus seperti ini, mungkin aku akan pergi meninggalkannya.”

Di forum yang lain, ada seorang ibu yang memiliki 1 orang anak bercerita bahwa suaminya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Sibuk dengan teman-temannya. Dan bila hari libur tiba, suaminya akan semakin sibuk dengan handphone-nya. Dia merasa tidak diperhatikan dan tidak dipedulikan oleh suaminya. Kalau di ajak jalan, suaminya selalu menolak. Tetapi kalau di ajak jalan oleh teman-temannya, tanpa pikir panjang sang suami langsung pergi. Tidak ada keharmonisan di keluarga.

Berbagai cara sudah dia lakukan. Dari berbicara lembut, merayu, menggoda, berhias, sampai akhirnya dia berkata kasar… suaminya tidak berubah. Kalaupun berubah, paling perubahannya hanya beberapa minggu saja. Kemudian dia bertemu dengan pria lain.  Pria yang bisa memberi kenyamanan dan perhatian yang dia harapkan. Sebut saja nama Pria itu adalah X. Pria itu pun dekat dengan anaknya. Sampai akhirnya anaknya dengan polos berkata kepada ibunya seperti ini, “Mama… mama… aku ingin papa X aja.  Mama cari papa baru aja seperti X. Adek  ga mau punya papa yang sekarang.”

Jreeenggg… apa yang terjadi??? Siapa yang salah dalam posisi ini?
Sang istri atau sang suami?

Of course kita tidak dapat menyimpulkan sesuatu kalau hanya mendengar dari salah satu pihak saja. Mungkin sang suami memiliki kejenuhan yang tidak terucapkan, sehingga bersikap seperti itu. Mungkin juga ada hal yang tidak puas yang dirasakan oleh sang suami kepada istrinya sehingga suami lebih merasa nyaman berada di dekat teman-temannya ketimbang keluarganya. Atau bisa jadi memang tabiat suaminya yang begitu.

Kalau melihat dari sisi cerita si istri, mungkin kita bisa berkata kasihan si istri harus mengalami hal itu. Suaminya tidak perduli dan anaknya sampai meminta papa baru seperti itu. Padahal usia anaknya belum ada 7 tahun, mengapa anak ini bisa berkata seperti itu? Mungkin karena sikap suami yang keterlaluan karena terlalu asyik dengan dunianya sendiri. Sebut saja egois.

So??? Kembali ke pertanyaan semula… Siapa yang bisa di salahkan dalam hal ini???

Jawabannya tidak ada. Tidak ada satu pihak saja yang bisa di salahkan dalam kasus ini. Karena dari pihak suami maupun istri, masing-masing punya peranan. Suami salah, ya istri juga salah. Kalau suami benar, harusnya istri juga benar dong.  Kok bisa begitu??? Ya iyalah masa ya iya dong… Karena ketika sepasang kekasih mengikat janji setia, sehidup semati di hadapan Tuhan, itu berarti mereka sudah menjadi satu tubuh. Dan dari iman yang aku percayai, mereka bukan lagi menjadi dua di hadapan Tuhan melainkan menjadi satu.

Apakah perceraian merupakan jalan keluar yang terbaik? Daripada berselingkuh, lebih baik bercerai bukan??? Lalu bagaimana dengan psikologis sang anak? Pernahkah para orangtua muda yang memutuskan untuk bercerai memikirkan psikis/kejiwaan sang anak? Please deh, jangan egois…  Bukankah anak itu mengikuti panutan dari orangtuanya?

Kata teman-temanku yang sudah menikah, 97% mereka berkata bahwa kalau sudah menikah, cinta itu menjadi tidak penting lagi, tetapi yang menjadi penting adalah tanggung jawab!

Kebutuhan ekonomi, peranan keluarga besar… mungkin keluarga besar dari pihak si istri atau dari pihak si suami yang ingin ikut campur dalam setiap masalah rumah tangga, atau seorang saudara yang berkata, dia itu adik saya kok jadi istrinya yang ngatur? Dia itu kakak saya, kok jadi suaminya yang ngatur? Seorang saudara kandung merasa punya hak lebih atas saudaranya sehingga merasa sang istri atau sang suami di anggap tidak penting. Karena bagi sebagian orang, saudara sedarah itu jauh lebih penting ketimbang siapapun. Tentu saja hal itu bisa menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Dan akhirnya siapa yang menjadi korban?

Orang bilang, anak yang menjadi korban dalam semua masalah di atas. Menurutku bukan hanya anak… sang suami, istri, dan juga anak…. ketiga pihak ini lah yang menjadi korban atas semua problema rumah tangga yang terjadi. Apakah keluarga besar menjadi korban? Atau saudara kandung yang menjadi korban? Aku rasa keluarga besar tidak bisa dikategorikan korban. Karena dalam mahligai rumah tangga, mereka hanya “orang luar“.

Lalu apakah itu berarti keluarga besar tidak penting? Aku tidak bilang begitu, kalian yang bilang begitu. Keluarga besar itu penting. Tapi bukan berarti demi keluarga besar, tanggung jawab sebagai seorang istri atau seorang suami menjadi terbengkalai.

Seorang suami rela memberikan segala-galanya demi keluarga besarnya, sementara istrinya jarang di beri uang untuk kebutuhan hidup, dengan dalih si istri juga bisa cari uang kok. Sehingga beban menyekolahkan anak dan makanan di rumah, istri harus ikut memikulnya. Bahkan 75% beban kebutuhan ekonomi harus di pikul oleh si istri. Selalu membicarakan kejelekan istrinya di depan orang lain dan di depan keluarga besarnya. Akhirnya tanpa merasa berdosa si suami bilang, saya begini karena kurang perhatian dari istri. Gimana caranya merhatiin suami kalau istri harus kerja cari uang, istri juga harus memasak makanan anak, istri juga yang harus menyuci dan menyetrika, belum lagi urusan kebersihan rumah, dll, dsb… Tentu saja saat malam tiba, sang istri merasa terlalu lelah untuk melayani suami. Wanita itu bukan robot… Robot aja perlu istirahat apalagi wanita!

Bagaimana kalau kasusnya di balik? Sang istri merasa beban tanggung jawab keuangan itu harus di pikul oleh suami. Bukankah pria berkewajiban memenuhi kebutuhan wanita??? Kemudian apa yang di beri suami langsung dilimpahkan ke keluarga besarnya, atau untuk bersenang-senang. Tidak berpikir tabungan untuk masa depan anak, karena di pikirannya tertanam… semua itu tanggung jawab suami kok.  Kalau istrinya punya penghasilan yang jauh lebih besar dari suami, lantas sang suami di anggap remeh dan tidak dihargai. Suami di pandang rendah dan merasa menjadi ratu dalam segala-galanya. Selalu membicarakan kejelekan dan kekurangan suaminya di depan orang lain dan di depan keluarga besarnya.  Ingin dilayani bukannya melayani suami. Atau saat suami baru pulang kerja, tiba-tiba langsung di sambut dengan omelan-omelan tentang kelakuan anak, atau gosip ibu-ibu tetangga. Kalau suami tidak bisa memenuhi keinginannya, istri akan manyun dan ngambek berhari-hari, tidak menghargai perasaan suami. Please deh… Pria itu bukan mesin pencetak uang dan juga bukan robot yang tidak mempunyai perasaan. Sepertinya para wanita harus nonton film transformer… di film itu, robot aja punya perasaan… apalagi lelaki!

Lalu, apakah orang-orang yang mau menikah harus merasa takut? Bagaimana mengantisipasi hal-hal yang tidak di-ingin-kan tersebut? Bagaimana menurut pendapat kalian?

Happy Brithday Father

Hmmm… aneh tidak yah mengucapkan selamat ulang tahun kepada orang yang sudah menghadap Sang Pencipta? Agak aneh sih… Karena dalam ajaran iman yang aku percayai, kami di larang berbicara kepada manusia yang sudah meninggal. Karena roh nya sudah berada di alam lain dan dia sudah bersama-sama dengan Sang Pencipta.

Kalau bapak masih hidup, hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 65.  Aku membayangkan apa yang akan terjadi jika keadaan berbeda dengan sekarang. Apa yang akan terjadi jika dia masih hidup? Mungkin dia akan banyak menghabiskan waktu bercocok tanam. Bapak sangat suka menanam bunga. Kata orang tangan bapak itu dingin sehingga bunga apa saja yang disentuhnya pasti akan selalu hidup.

Aku ingat ada 1 bunga yang sangat bapak sukai. Bunga Euphorbia Kuning Muda.

              

Cantik dan unik… begitu katanya saat dia menunjukkan tanamannya yang sedang berbunga itu. Memang cantik. Itu lah bunga yang paling cantik, anggun dan kalem. Rata-rata bunga yang bapak tanam bewarna merah, merah muda, merah bintik-bintik, ada juga yang campuran merah putih dan ada juga warna kuning tua. Tapi ntah kenapa saat itu bunga kuning muda ini terlihat anggun di antara bunga-bunga yang lainnya. Sangat cantik.

Saat aku pergi ke kuburan bapak sendirian, aku pernah memetik bunga itu dan aku tanam di gundukan makam bapak. Saat aku kembali lagi ke kuburan tersebut beberapa bulan kemudian, bunganya sudah tidak ada. Mungkin layu, atau mungkin juga bunganya tertiup angin dan terbang entah kemana.

Bapak… kepergiannya menyisakan pertanyaan yang seharusnya memang tidak perlu aku tanyakan lagi. Tetapi aku ingin mendengar langsung jawabannya dari mulutnya. Dan aku tau… harapan itu tidak akan mungkin terwujud, karena bapak sudah tidak ada di dunia ini lagi.

Satu hal yang pasti, aku sangat mengasihinya. Walau tak bisa ku ucapkan dengan kata-kata, bahkan sebuah puisi terindah sekalipun tidak akan dapat menyamai rasa kasihku kepadanya. Karena dia adalah bapakku. Yah… dia adalah bapakku.

I love you father…

 

 

 

 

Gubuk Emas

Seperti judul di atas… Gubuk Emas… Begitulah aku menyebutnya…
Beberapa orang menilai sesuatu hanya dari luar. Penampilan menjadi hal utama untuk menentukan apakah seseorang itu layak atau tidak agar di anggap berharga.

Mungkin faktor lingkungan juga yang menyebabkan seseorang bisa berpikiran seperti itu… Selalu menilai dari luar.  Dalam keputus-asa’an dan ketidakberdayaan, paling-paling kita hanya bisa bilang… “Hanya Tuhan saja yang tau.”

Ya betul… Manusia kerap kali menilai kita dari luar… penampilan fisik menjadi yang utama. Bidang pekerjaan menentukan tingkat harga diri seseorang. Ahk… itu lah omong kosong dunia… Tetapi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, aku tau DIA tidak pernah salah menilai seseorang.

Bukankah Tuhan bisa memakai apa yang dianggap bodoh bagi dunia untuk memalukan orang-orang berhikmat??? Dan bukankah Tuhan juga bisa memakai apa yang dianggap lemah bagi dunia untuk memalukan apa yang kuat??? (1 kor 1:27)

Memang sepertinya kedengaran naif… Aku sendiri tidak mengerti arti kata naif itu apa? Yang jelas artinya pasti berbeda dengan munafik kan?

Pilih mana? Menjadi orang naif atau menjadi orang munafik???

Aku tau dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam, bahwa sesuatu yang baik, jika disertai dengan campur tangan Tuhan, pasti hal baik itu akan terjadi dan terealisasi di dunia nyata.

Dan aku percaya, suatu hari nanti… yah benar… akan ada hari dimana aku akan berkata… inilah gubuk emasku… gubuk yang dulu diremehkan dan tidak dipandang, mungkin juga diragukan oleh dunia… ini lah dia… gubuk emasku… karena di dalam gubuk itu, ada tambang emas murni yang tidak bercacat cela… dan aku akan berbangga serta berbahagia karenanya. Karena aku memiliki gubuk emas.

Berbuat Baiklah Selagi Kita Bisa!

Kadang ada saat-saat tertentu dimana aku begitu merindukannya dan ingin sekali berteriak memanggil namanya. Dan aku tau, sia-sia memanggilnya sekeras apapun suaraku, karena dia tidak mungkin mendengarku lagi.

Kadang aku berusaha menepis semua kesedihan di hati, menepis semua pikiran-pikiran negative yang muncul, berusaha untuk tetap bergairah dan bersemangat… Namun pada saat-saat tertentu… yah, hanya pada saat-saat tertentu… aku merasa begitu lemah, lunglai dan tak bertenaga.

Aku kira semua orang pasti pernah mengalaminya. Saat-saat dimana kita merasa down dan ingin sekali menangis sekencang-kencangnya. Entah itu yang dinamakan terlalu mendramatisir perasaan atau terlalu lebai… tapi itulah yang terjadi.

Seperti biasa, setiap satu minggu sekali aku pasti selalu pulang ke rumahku di kota. Perjalanan yang aku tempuh bisa mencapai lebih dari 100 kilo dengan menggunakan motor kesayanganku. Biasanya aku pulang melewati daerah Tanjung Bintang… tetapi khusus hari sabtu kemarin aku pulang melewati daerah kota Metro. Perjalanan melewati kota Metro bisa mencapai 1,5 kali lipat dari rute perjalananku yang biasanya.

Saat melewati kota Metro, tiba-tiba aku teringat dengan alm.bapak… aku melewati kota metro tidak begitu kencang… kecepatan standart… kadang kecepatanku 80km/jam dan kadang 60km/jam. Selama perjalanan aku merenungkan… jalan-jalan inilah yang dulu sering dilalui bapak. Entah mengapa selama perjalanan dari Metro menuju ke rumah wajah bapak terus bermain-main di bola mataku. I really miss him… really… so much…

Saat pulang ke rumah, aku duduk di ruang santai di depan tv. Aku kembali teringat kejadian saat-saat terakhir bapak masih hidup. Lagi dan lagi…  Aku seperti berada di rumah sakit, melihat diriku berteriak histeris, memanggil nama Tuhan, dan harus di tenangkan oleh para perawat. Aku seperti mendengar suara salah seorang kenalanku berkata-kata saat pertama kali aku diberitahu bahwa bapak telah pergi.  Lagi… dan lagi… Aku seperti melihat diriku sendiri ada di antara kerumunan para pelayat… dan aku hanya bisa duduk terdiam di samping peti jenazah. Aku tidak menangis, aku hanya diam terpekur mendengar jeritan tangis dari mama di sampingku sambil menatap wajah kaku bapak di dalam peti. Tidak ada air mata yang keluar dari mataku saat itu… tidak setetespun.

Sampai saat terakhir peti jenazah itu akan di tutup… saat itu tangisku baru meledak… dan aku masih ingat saat aku mengacungkan jari telunjukku. “Satu menit lagi… beri aku satu menit lagi dan biarkan aku melihat wajah bapak untuk yang terakhir kalinya… Hanya satu menit saja… ” Aku memohon kepada orang-orang yang akan menutup peti itu. Aku berusaha melihat bapak tanpa berkedip, satu menit yang tak terlupakan, kemudian aku mengecup keningnya untuk yang terakhir kalinya, dan akhirnya aku berpaling, mundur, saat peti itu di tutup.

Mengapa aku harus menulis semua ini? Bukankah sudah aku katakan bahwa semua orang punya kisahnya masing-masing? Punya kesedihan masing-masing? Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku harus menulis semua ini di blog ini… entah apakah untuk mencari simpati dan perhatian dari pembaca, atau untuk kepuasan diriku sendiri. Entahlah…

Seringkali kita baru menyadari arti dari menyayangi seseorang saat kita kehilangan orang tersebut. Begitu juga dengan cinta… Banyak orang baru sadar mencintai seorang wanita atau pria saat mereka telah pergi. Bukan hanya cinta sepasang kekasih saja, tetapi juga bagaimana kita melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang kita sayangi.

Kadang saat seseorang telah pergi, kita menyesal karena belum sempat melakukan ini atau itu, belum sempat membahagiakannya… yang tersisa hanya sebuah penyesalan yang sia-sia. Itu kah yang kita inginkan? Tentu saja tidak.

Oleh sebab itu, jangan sia-siakan waktu yang ada.  Berbuat baiklah selagi kita bisa melakukannya. Senangkan hati orang-orang yang mengasihi kita dan yang kita kasihi… bahagiakan mereka dengan sikap kita. Agar suatu hari kelak, saat mereka pergi, tidak ada kata penyesalan yang tersisa.

Talk Less Do More

Kenapa semua orang merasa bahwa hidupnya paling merana sedunia yah? Ada banyak orang yang sepertinya menyalahkan ruang dan waktu… meratapi nasib dan akhirnya hanya stak nasi sampai di situ saja. Diam dan tidak berbuat apa-apa.

Aku tidak mau menjadi orang yang seperti itu. Dulu mungkin aku seperti itu… Terlalu lebai… mendramatisir keadaan, merasa diri patut dikasihani dan tidak ada yang peduli dengan perasaan hati. Jiahhhh… Cape ajahhhh…

So what gitu??? Apa dengan meratapi nasib, stress dan merasa tertekan dapat merubah keadaan? The answer is no!  So, apa dong yang bisa kita lakukan kalau sedang mengalami masalah? Udah usaha, pontang panting sampai jungkir balik tapi tetap tidak ada jalan keluar. Ya udah… banyak-banyak aja lah berdoa sambil menunggu jawaban Tuhan sambil mengucap syukur.

Inget, mengucap syukur, bukannya bersungut-sungut dan menyalahkan keadaan. Loh, kok gitu? paling enggak kalau kita sungut-sungut dan marah kita kan bisa sedikit lega karena udah melampiaskan isi hati… Gimana sih ini yang nulis… error… ngomong gampang prakteknya yang susah bossss…

Ntu tuh… yang ngomong kayak gitu tuh udah di bisikin ama malaikat bertanduk tuh… Emang sih ngomong gampang banget… Makanya jadi psikolog, enak… kerjanya tinggal ngomong udah gitu dapet duit lagi…

But, yang aku tau… kalau kita sungut-sungut, itu seperti kita tidak percaya dengan kuasa Tuhan. Mungkin itu juga sebabnya kali yah jawaban Tuhan kayaknya tidak kita terima…

Lagian, semua orang tuh punya kisah nya masiang-masing. Punya kesedihan masing-masing, dan juga punya kebahagiaan masing-masing…. Jadi please deh… Stop! Jangan lebay… Kalau mau sedih ya sedih aja… kalau mau susah ya susah aja… tapi cukup untuk sehari. Kesusahan sehari cukup untuk sehari. Ungkit masa lalu juga percuma… nambah penyakit. Merasa paling banyak berkorban juga percuma… tidak ada gunanya… kalau pengorbanan yang ada harus di ungkit-ungkit, mending tidak usah berkorban sama sekali. Jadi cukup! Stop mengeluh… Jalani aja hidup ini sepositif yang kita bisa.

Talk less do more… terlalu grabak grubuk hasilnya belum tentu maksimal. Malah bisa saja nanti mendatangkan masalah yang baru.

Hhhhh… aku rasa tulisan ini bukan hanya di peruntukkan untuk para pembaca saja, tetapi juga untuk penulis itu sendiri.  Hari ini, aku punya 100 alasan untuk marah, untuk membenci, untuk bersungut-sungut…  Tetapi saat aku berdiam diri di kamar, merenung dan memikirkan tentang hidupku dan DIA yang ESA, aku tau bahwa sesungguhnya aku punya lebih dari sejuta alasan untuk tersenyum dan menjalani hidup dengan positif.

Adikku pernah bilang, semua situasi Tuhan ijinkan terjadi untuk membentuk karakter kita… Yah itu betul… semakin banyak ujian hidup yang kita hadapi, karakter kita akan terbentuk semakin dewasa lagi.

Semoga kita semua dapat melewati semua ujian hidup dengan pikiran positif dan hati yang mengucap syukur. Amiiiinnnn…

Hari Yang Melelahkan

Hari ini benar-benar hari yang melelahkan… Tadi siang denger-denger mobil saudaraku di Jakarta bermasalah sehingga mereka di pending pulang ke kotaku. Kemudian hari ini aku juga harus pindahan kos…

Fiuhhhh… pindahan kos pakai mobil orang, terussss… gang kos aku yang baru ini sempit nya bukan main deh… kata orang-orang mobil bisa memasuki gang itu, tapi ternyata susah sekali…

Akhirnya tanpa disengaja mobil nyerempet pinggir gerbang sehingga pintu mobil sebelah kiri menjadi penyok dan tergores…. Ucfff… Belum lagi masalah ngeluarin mobil dari gang… butuh waktu hampir satu jam untuk bisa mengeluarkan mobil dari gang itu… benar-benar melelahkan.

Aku berterimakasih sama teman aku yang mau mengantarkanku pindahan pakai mobil, dan aku tau kalau mobil itu penyok, itu juga bukan unsur kesengajaan.  Gimana juga sekarang yang menjadi pikiranku adalah… hiks… aku harus mengganti mobil itu…. hiks hiks hiks…  paling juga tuh body di dempul, cuma aku gak tau berapa lah biaya dempul dan perbaiki penyok2 mobil itu… Ahk… udah lah, hadapi aja….

Yang jelas hari ini benar-benar hari yang cukup melelahkan.. fiuhhhh…

Btw, akhir-akhir ini aku merasa cukup kesepian. Butuh teman ngobrol tapi tidak ada yang bisa di ajak bicara. Kalau pun ada, orang-orangnya tidak begitu enak di ajak sharing.  Benar-benar merasa kesepian sekali…

Aku percaya, kesepian ini nanti akan terobati saat aku dan pangeranku bersatu nanti. Kami akan punya banyak waktu untuk saling sharing, tukar pikiran, dan saling menopang satu sama lain. Aku percaya sesuatu yang baik sedang terjadi. Amiiiiinnnn…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 329 pengikut lainnya.